Ini Pesan Ketua MRPB Saat Menghadiri Pra Tikar Adat Di Distrik Isim Bagi Suku Sougb Bohon

PinFunPapua.com, Manokwari – Ketua Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) dalam Pra gelar tikar adat di Distrik Isim Kabupaten Manokwari Selatan mengajak warga masyarakat suku Sougb Bohon untuk jangan mudah terprovokasi oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.

” Kita harus saling menjaga satu sama lain, kalau ada warga yang kita tidak kenal sebaiknya melapor kepada pihak keamanan, himbau Ketua MRPB Maxsi Nelson Ahoren saat menghadiri Pra Gelar Tikar Adat untuk empat distrik, Belum lama ini jalan poros Isim Horna, Desa Isim Distrik Dataran Isim Kabupaten Manokwari selatan.

Ketua MRPB Maxsi Nelson Ahoren mengatakan situasi Papua Barat saat ini ada sedikit tegang sehingga Empat Dewan Adat Suku (DAS) yang ada di empat distrik harus menyampaikan kepada warga masyarakatnya untuk situasi Papua Barat yang saat ini.

” Contohnya kejadian di kampung Kisor, Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Bintuni menjadi pelajaran, kasus Kisor terjadi warga dikampung Kisor semua lari ke hutan dan ada juga yang lari ke kota, sehingga kampung menjadi sunyi,” ungkapnya.

Dampak dari semua itu Pegawai Negeri Sipil yang non Papua baik Suster, Mantri dan para Guru mereka tidak bisa bekerja karena adanya ketakutan akan hal tersebut. ” Kalau sekarang ada orang sakit siapa yang mau tolong mereka, anak-anak sekolah semuanya terlantar siapa yang akan mengajar mereka, ini akibat mereka takut jangan sampai kejadian yang terjadi di Kabupaten Bintuni dan Maybrat terjadi di Kabupaten Manokwari Selatan.

” Yang rugi dan jadi korban hari ini warga kita yang ada di Distrik Isim, oleh karena itu kita empat DAS harus sepakat untuk menyampaikan kepada pemerintah kita siap menjamin keamana para tenaga kesehatan, karena kita tidak tahu kapan penyakit itu datang,” tuturnya.

Maxsi berpesan kepada empat DAS bahwa kasus yang terjadi di daerah lain jangan terjadi di Kabupaten Manokwari Selatan. ” Kita harus jaga ini dengan baik, fokus kita hari ini adalah bagaimana kenyamanan, dan keamanan bagi kita punya anak-anak bagaimana kita bisa hidup dan makan, bagaimana kita bisa hidup untuk sekolahkan anak-anak.”

Masxi dengan tegas menyampaikan saat ini masyarakat Arfak sudah lepas aktifitas menentang NKRI, sehingga jangan lagi ada yang membangun organisasi-organisasi yang bertentangan dengan NKRI.

” Mari kita sama-sama nyatakan tolak organisasi-organisasi tersebut yang dapat menjauhkan kita dari NKRI, yang urus barang itu ada orang lain, tugas kita saat ini kasih sekolah anak, urus keluarga, kita jangan lagi terlibat organisasi-organisasi terlarang,” tuturnya.

Untuk organisasi Papua merdeka kita orang Arfak juga sudah pernah berbicara terkait itu, sehingga kita berada diketerbelakangan dan tidak pernah diberkati, akhirnya orang lain yang maju dan kita hanya menjadi penonton.

” Namun waktu terus berjalan kita orang Arfak meninggalkan itu semua itu dan kembali kepangkuan NKRI, dan kita mulai maju duduk di pemerintahan, baik itu DPR, Bupati bahkan Gubernur,” kata Maxsi.

Lanjut Maxsi, pengalaman yang terjadi di tahun 1965 sampai dgn tahun 1969 itu, kami ini adalah korban, kami ini adalah orang tua yang pelaku, akhirnya orang tua kami di tangkap di bawa dan di asingkan pergi bertugas di daerah sulawesi akhirnya lahirlah kami-kami ini yang lahir sekarang ini,” pungkasnya. (PFP-07)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *