FAKFAK, PinFunPapua.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat (DPR-PB) sekaligus seniman musik, Fachry Tura, memanfaatkan momentum Reses II tahun 2025 secara unik dengan menggelar pertemuan bersama para seniman lintas generasi di Kampung Nemewikarya, Distrik Fakfak Tengah, pada Sabtu (31/5/2025). Kegiatan ini menjadi ruang diskusi terbuka mengenai tantangan dunia seni lokal, khususnya musik, dan upaya kolektif membangkitkan kembali Dewan Kesenian Kabupaten Fakfak.
Dikenal sebagai musisi bergenre rock yang masih aktif hingga kini, Fachry tampil tidak hanya sebagai legislator, tetapi juga sebagai rekan seprofesi yang memahami secara mendalam realitas keseharian para pelaku seni di Fakfak.
“Kalau kita memilih jalan sebagai seniman, kita harus ikhlas dan tulus. Jangan berkarya hanya karena ingin diakui pemerintah. Berkarya saja dulu, hasil akan mengikuti,” ujar Fachry kepada para peserta.
Ia menilai bahwa profesi seniman, khususnya di Fakfak dan Papua pada umumnya, menghadapi tantangan besar akibat belum terbentuknya ekosistem industri musik yang mapan. Meskipun demikian, Fachry mendorong para seniman agar tidak kehilangan semangat, memanfaatkan teknologi digital, dan terus menghasilkan karya otentik yang merepresentasikan jati diri mereka.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Fachry berjanji akan memperjuangkan pengadaan perangkat rekaman musik yang lengkap untuk diserahkan kepada sejumlah sanggar seni di Fakfak. Ia juga menyampaikan rencana mendatangkan tenaga teknis profesional untuk melatih para seniman agar dapat menghasilkan karya dengan kualitas produksi yang kompetitif.
“Bukan hanya untuk musik modern, tapi juga musik tradisional. Kita harus membangun atmosfer seni yang hidup dan dinamis di Fakfak,” tegasnya.
Dalam diskusi tersebut, Fachry juga menyoroti pentingnya mengaktifkan kembali Dewan Kesenian Kabupaten Fakfak yang sebelumnya pernah menjadi wadah penting bagi pengembangan seni dan budaya lokal.

“Dulu Dewan Kesenian sangat berperan besar. Ini bukan kebutuhan sekunder, tapi primer bagi para pelaku seni. Fakfak harus punya lagi Dewan Kesenian yang aktif dan diberi peran strategis,” ujarnya.
Fachry juga menyampaikan keprihatinannya terhadap perlakuan yang tidak proporsional terhadap seniman lokal dalam sejumlah acara besar di daerah. Ia menilai masih banyak penyelenggara acara yang lebih mengutamakan artis dari luar daerah dengan bayaran besar, sementara seniman Fakfak hanya diberi penghargaan seadanya.
“Kalau event besar seperti HUT Kota Fakfak, jangan hanya panggil artis luar dengan bayaran besar, sementara artis lokal hanya diberi nasi kotak. Kita harus adil, karena mereka juga punya kualitas,” tegas Fachry.
Menutup pertemuan, Fachry mengajak seluruh pelaku seni untuk bersatu, meninggalkan sekat-sekat perbedaan, dan bersama-sama membangun dunia seni Fakfak yang lebih solid dan produktif. Ia percaya bahwa kota yang hebat bukan hanya dilihat dari fisiknya, melainkan dari kekayaan budaya yang tumbuh dan hidup di dalamnya.
“Kota hebat bukan diukur dari bangunan megah, tapi dari aktivitas seni dan budaya yang tumbuh di dalamnya,” pungkasnya. (Risman)
