Ketua TP PKK Kabupaten Fakfak, Nurwidayati Samaun Dahlan, (Kanan) di Dampingi Ketua Organisasi Wanita Assaffah, Satry Ayub,(Kiri) Pada Saat Memaparkan Materi, (Foto: Risman Bauw).
FAKFAK,PinFunPapua.com– Ketua Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kabupaten Fakfak, Nurwidayati Samaun Dahlan, menghadiri sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan Seminar dan Rapat Kerja Organisasi Wanita Assaffah Fakfak yang digelar di Hotel HI Fakfak, Rabu (13/5/2026).
Dalam paparannya, Nurwidayati mengangkat tema “Kepemimpinan Inklusif: Peran Perempuan dalam Membangun Organisasi yang Beragam” dengan subtema “Memimpin dengan Keberagaman, Membangun Masa Depan Bersama.”
Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan inklusif merupakan gaya kepemimpinan yang menghargai perbedaan serta memberikan ruang bagi semua pihak untuk berkontribusi secara maksimal dalam organisasi.
“Pemimpin inklusif memastikan setiap suara didengar, setiap perspektif dihargai, dan setiap individu merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan,” ujar Nurwidayati.
Menurutnya, di era modern saat ini, inklusivitas menjadi salah satu kunci keberhasilan organisasi karena mampu mendorong inovasi, meningkatkan keterlibatan anggota, serta membangun budaya kerja yang kuat dan adaptif.
Nurwidayati juga menekankan pentingnya keberagaman dalam organisasi, baik dari sisi gender, latar belakang, budaya, maupun pengalaman. Ia menilai organisasi yang mampu menghargai perbedaan akan lebih mudah menghadapi tantangan dan menghasilkan ide-ide kreatif.
“Dengan keberagaman, organisasi akan lebih inovatif karena setiap anggota memiliki sudut pandang dan pengalaman yang berbeda,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia memaparkan sejumlah manfaat kepemimpinan inklusif perempuan, di antaranya menciptakan suasana organisasi yang lebih rukun dan nyaman, meningkatkan semangat anggota, mempermudah kerja sama, serta mendorong organisasi menjadi lebih baik.
Namun demikian, Nurwidayati mengakui masih terdapat berbagai tantangan dalam kepemimpinan perempuan, seperti keterbatasan kesempatan, kurangnya dukungan, hingga tuntutan untuk terus membuktikan kemampuan diri.
“Perempuan masih sering dipandang sebelah mata, padahal perempuan juga memiliki kemampuan memimpin yang baik dan mampu membawa perubahan positif,” ungkapnya.
Untuk itu, ia mendorong pentingnya memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dalam kepemimpinan, meningkatkan rasa percaya diri, memperluas pengalaman, serta membangun dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Selain itu, Nurwidayati juga mengajak seluruh organisasi perempuan di Fakfak membangun budaya organisasi yang inklusif dengan mengedepankan kerja sama, kebersamaan, dan sikap saling menghargai.
“Agar organisasi menjadi kuat dan rukun, semua anggota harus saling menerima, mendukung, dan tidak membeda-bedakan satu sama lain,” jelasnya.
Ia turut membagikan lima langkah strategis dalam membangun organisasi inklusif, yakni melibatkan seluruh anggota, tidak membeda-bedakan anggota, membangun kerja sama yang baik, mendengarkan pendapat anggota, dan menjaga kekompakan organisasi.
Di akhir pemaparannya, Nurwidayati menegaskan bahwa perempuan memiliki kemampuan besar untuk memimpin dan membawa perubahan dimulai dari lingkungan terkecil.
“Kerja sama membuat organisasi menjadi lebih kuat, dan perempuan memiliki kemampuan untuk memimpin. Mulailah dari hal-hal kecil di sekitar kita,” tutupnya. (Risman Bauw).
