Koordinator BGN Kabupaten Fakfak, Nurlela Mekar Sari Menyampaikan Bahwa Saat ini Terdapat Tujuh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yang Telah Beroperasi di Kabupaten Fakfak, (Foto: Risman Bauw).
FAKFAK,PinFunPapua.com – Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Satuan Tugas (Satgas) terus melakukan koordinasi dan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat, khususnya para pelajar.
Dalam rapat koordinasi dan evaluasi pelaksanaan MBG, Koordinator BGN Kabupaten Fakfak, Nurlela Mekar Sari menyampaikan bahwa saat ini terdapat tujuh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi di Kabupaten Fakfak dengan jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 11.000 hingga 15.000 orang, Jumat (19/6/2026).
“Dalam rapat ini, kami diminta oleh Sekretaris Daerah selaku Ketua Satgas untuk menyampaikan laporan perkembangan SPPG yang telah berjalan di Kabupaten Fakfak. Saat ini ada tujuh unit yang sudah operasional dan terus melayani ribuan penerima manfaat,” ungkap Nurlela.
Tujuh unit SPPG tersebut tersebar di sejumlah wilayah, yakni di Tanama, Wagom yang terdiri dari dua unit (Wagom 1 dan Wagom 2), kawasan depan Kejaksaan dan depan Kantor Bupati, Pantai Laembo, Kampung Dgen, serta Kampung Kayuni.
Menurutnya, pembahasan dalam rapat tidak hanya berkaitan dengan dapur aglomerasi, tetapi juga dapur mitra, dapur mandiri, dan dapur wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kendala terbesar saat ini masih terjadi pada pembangunan dan pengoperasian dapur 3T akibat adanya persoalan administrasi dan sistem pembayaran di tingkat pusat.
Beberapa dapur 3T yang telah selesai dibangun bahkan telah melalui proses penilaian oleh KPKNL, namun hingga kini belum dapat beroperasi sepenuhnya karena proses pembayaran dan mekanisme administrasi masih tertahan.

Meski demikian, Nurlela menegaskan bahwa pelaksanaan Program MBG di Kabupaten Fakfak harus tetap berjalan sesuai arahan pemerintah pusat, karena masih banyak anak-anak yang membutuhkan program tersebut.
“Terlepas dari adanya pro dan kontra terhadap program MBG, kami di daerah melihat langsung bahwa masih banyak anak-anak yang membutuhkan. Bahkan kami masih menerima berbagai bentuk apresiasi dan harapan dari para siswa agar program ini terus berjalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan proses seleksi penerima manfaat akan terus dievaluasi agar bantuan benar-benar menyasar sekolah dan siswa yang membutuhkan.
Selain memberikan manfaat bagi pemenuhan gizi anak, program MBG juga memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi daerah melalui pembelian bahan pangan dari petani lokal dan aktivitas perdagangan di pasar.
“Kami berharap persoalan yang terjadi di pusat tidak menghambat pelaksanaan MBG di daerah. Program ini bukan hanya tentang makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” katanya.
Nurlela juga berharap ada perhatian khusus terhadap mitra dapur 3T yang telah melakukan investasi besar dalam membangun fasilitas dapur, membeli peralatan, serta menyiapkan operasional berdasarkan surat keputusan resmi dari BGN.
“Setiap langkah kecil untuk memenuhi gizi anak hari ini adalah investasi besar untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan kuat di masa depan,” tutupnya.
(Penulis: Risman Bauw).
