FAKFAK,PinFunPapua.com – Semangat syiar Islam berpadu dengan nilai persaudaraan dan kebersamaan mewarnai pembukaan Lomba Islami dalam rangka memperingati 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua di Kabupaten Fakfak, Rabu (15/7/2026).
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat silaturahmi, sekaligus meneguhkan Fakfak sebagai daerah yang selama ratusan tahun dikenal mampu merawat kerukunan dalam keberagaman melalui filosofi “Satu Tungku Tiga Batu.”
Koordinator Penanggung Jawab Lomba Islami, Zulkifli La Ode Hilu, S.P., M.M., mengatakan penyelenggaraan lomba merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menanamkan kecintaan terhadap ajaran Islam, khususnya di kalangan generasi muda, melalui kegiatan yang edukatif, religius, dan sarat nilai kebersamaan.
Di hadapan Bupati Fakfak, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, pimpinan organisasi, dewan juri, panitia, serta ratusan peserta, Zulkifli melaporkan tingginya antusiasme masyarakat dalam menyambut peringatan bersejarah tersebut.
Sebanyak 229 peserta mengikuti perlombaan yang terbagi dalam tujuh cabang lomba dengan berbagai kategori usia. Jika dihitung bersama keluarga, pendamping, dan pendukung peserta yang rata-rata berjumlah 15 hingga 20 orang, total masyarakat yang terlibat diperkirakan mencapai sekitar 3.000 orang.
Menurut Zulkifli, tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua telah berkembang menjadi momentum kebersamaan yang menyatukan masyarakat lintas generasi dalam semangat dakwah, pendidikan, dan persaudaraan.
“Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang memperkuat syiar Islam sekaligus mempererat tali silaturahmi masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama penyelenggaraan lomba bukan hanya mencari juara, melainkan memberikan wadah bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan bakat, memperdalam pemahaman keislaman, dan membangun karakter melalui kompetisi yang sehat.

“Menang atau kalah adalah bagian dari perlombaan. Namun yang jauh lebih penting adalah pengalaman, hikmah syiar Islam, dan silaturahmi yang terbangun selama kegiatan berlangsung,” kata Zulkifli.
Pada kesempatan itu, Zulkifli juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Fakfak atas dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan, termasuk dukungan pembiayaan yang diberikan sehingga seluruh rangkaian acara dapat terlaksana dengan baik.
Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada para donatur, dermawan, tokoh agama, unsur TNI-Polri, Kejaksaan, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, sponsor, dan seluruh panitia yang bekerja secara sukarela demi menyukseskan peringatan tersebut.
Menurutnya, keberhasilan sebuah kegiatan besar tidak lahir dari kerja individu, melainkan dari semangat gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
Ia berharap seluruh peserta mengikuti setiap perlombaan dengan menjunjung tinggi sportivitas yang berlandaskan nilai-nilai Islam serta menjadikan ajang tersebut sebagai sarana belajar, memperluas persaudaraan, dan meningkatkan kecintaan terhadap syiar Islam di Bumi Mbaham Matta.
Mengakhiri sambutannya, Zulkifli menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menjadikan peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua sebagai inspirasi dalam melanjutkan warisan dakwah para pendahulu.
Penyelenggaraan Lomba Islami tahun ini kembali menegaskan posisi Fakfak sebagai salah satu daerah yang memiliki jejak sejarah penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, syiar Islam terus tumbuh berdampingan dengan budaya lokal, melahirkan harmoni yang telah diwariskan selama lebih dari enam abad.
Partisipasi ribuan masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa semangat Islam yang membawa kedamaian, kasih sayang, dan persaudaraan tetap hidup serta terus diwariskan kepada generasi penerus sebagai fondasi membangun Papua yang religius, toleran, dan berakhlak mulia.
“Syiar agama akan semakin bermakna ketika mampu menghadirkan persaudaraan, memperkuat toleransi, dan menginspirasi generasi muda untuk menjaga warisan nilai-nilai kebaikan. Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteruskan melalui karya, akhlak, dan kebersamaan.”
(Jurnalis : Risman Bauw).
