Pendiri sekaligus Pembina Yayasan Cahaya Papua Barat , Theresia Ngutra ( FOTO : Aufrida Marisan )
MANOKWARI, PinFunPapua.com – Yayasan Cahaya Papua Barat yang berlokasi di Sowi Gunung menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan kegiatan pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut. Pendiri sekaligus pembina yayasan, Theresia Ngutra, menyampaikan bahwa tahun ini akan menjadi momen penting bagi SD Sowi Indah, karena angkatan pertamanya akan lulus. Namun, hal ini juga menuntut tersedianya ruang belajar tambahan untuk menerima siswa baru di tahun ajaran berikutnya.
“Saat ini kami benar-benar membutuhkan bangunan permanen. Yang ada sekarang masih merupakan bangunan sementara yang dibangun oleh Kejaksaan Tinggi. Bahkan, kegiatan belajar mengajar untuk TK masih dilakukan di rumah warga,” ungkap Theresia saat ditemui sejumlah wartawan, Senin ( 03/02/2025 )
Menurutnya, kebutuhan mendesak yang dihadapi sekolah adalah ruang kelas yang tidak memadai untuk menampung seluruh siswa. Saat ini, hanya tersedia empat bilik kelas yang kapasitasnya terbatas, sehingga banyak siswa kesulitan mendapatkan ruang belajar yang layak.
Selain itu, jika nantinya para lulusan SD ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, yayasan juga harus memikirkan keberlanjutan pendidikan mereka. “Kalau pemerintah bisa membantu kami dengan penyediaan bangunan, otomatis kami bisa lanjut mendirikan SMP. Tapi kalau dalam beberapa bulan ke depan tidak ada solusi, maka anak-anak terpaksa harus mencari sekolah lain untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Selain keterbatasan infrastruktur, Yayasan Cahaya Papua Barat juga menghadapi kendala dalam pembayaran honor guru. Menurut Theresia, gaji para tenaga pendidik belum dibayarkan selama lebih dari satu tahun, dengan total tunggakan mencapai ratusan juta rupiah.
“Saya sudah berusaha mencari solusi, tapi hingga saat ini belum ada hasil. Kami juga sudah mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah provinsi dan berharap ada jawaban tahun ini,” katanya.
Di tengah kondisi sulit ini, Theresia tetap bersyukur karena masih ada pihak-pihak yang peduli terhadap pendidikan di yayasan tersebut. Bantuan dari individu, dinas, serta pemerhati pendidikan terus berdatangan, meskipun belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan operasional sekolah.
Saat ini, yayasan memiliki tujuh guru yang mengajar di jenjang TK dan SD. Tiga guru mengajar di TK, sementara empat lainnya mengajar di SD. Total jumlah siswa yang terdaftar di sekolah ini lebih dari 70 orang, mulai dari kelompok bermain (KB), TK, hingga SD.
Meski menghadapi tantangan besar, para guru tetap semangat dalam menjalankan tugas mereka. “Meskipun honor belum dibayarkan, para guru tetap mengajar dengan penuh dedikasi. Mereka luar biasa dan tidak meninggalkan anak-anak,” kata Theresia.
Yayasan Cahaya Papua Barat berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi sekolah ini. Dengan adanya dukungan, baik dalam bentuk pembangunan sekolah maupun pembayaran honor guru, diharapkan anak-anak di Sowi Gunung tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan berkelanjutan. ( red )
