MANOKWARI, PinFunPapua.com — Tokoh adat Papua Barat, Obet Arik Ayok Rumbruren, menyerukan pentingnya menjaga dan melestarikan burung cenderawasih sebagai simbol kehormatan dan kebesaran orang Papua. Seruan itu disampaikan menyusul tindakan pembakaran mahkota cenderawasih yang dinilainya keliru.
Obet mengisahkan, ia pernah membeli mahkota cenderawasih di Teluk Bintuni bukan untuk digunakan, melainkan untuk dijadikan bahan edukasi kepada generasi muda agar tidak lagi berburu burung tersebut.
“Saya sedih melihat burung yang tidak berdosa dijadikan hiasan kepala. Saya membeli mahkota itu bukan untuk dipakai, tetapi untuk mengingatkan masyarakat agar berhenti berburu burung cenderawasih,” jelasnya.
Menurut Obet, pelestarian satwa endemik Papua harus dilakukan dengan pendekatan budaya dan edukasi, bukan dengan tindakan pemusnahan.
“Mahkota itu seharusnya tidak dibakar. Simpan dan jadikan bahan edukasi di museum agar anak cucu tahu bentuk burung cenderawasih bila suatu saat punah,” ujarnya.
Ia menambahkan, dirinya menyimpan lima mahkota burung cenderawasih dalam lemari kaca. Mahkota itu tidak pernah digunakan sembarangan karena ia memandang burung cenderawasih sebagai makhluk yang sakral dan langka.
“Saya tidak mengenakan mahkota itu di sembarang acara. Ini simbol kehormatan dan kebesaran orang Papua,” tutur Obet.
Ia juga menegaskan bahwa kesalahan utama bukan hanya pada tindakan pembakaran, tetapi juga pada maraknya perburuan dan perdagangan burung langka di Papua.
“Kesalahan besar ada pada orang yang berburu burung ini. Kalau itu orang Papua, saya minta hormatilah ciptaan Tuhan. Dulu burung-burung membangunkan kita tiap pagi. Sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya.
Obet berharap pemerintah membentuk kebijakan tegas untuk melindungi satwa endemik Papua, serta mendorong masyarakat agar tidak memperjualbelikan satwa liar yang dilindungi.(red)
