MANOKWARI, PinFunPapua.com – Pemerintah Provinsi Papua Barat tengah mematangkan langkah strategis dalam pengembangan sektor pertanian dan energi sebagai tindak lanjut hasil pertemuan dengan Menteri Pertanian pada Maret 2026 lalu.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi daerah berbasis potensi lokal, sekaligus memperkuat kontribusi Papua Barat dalam mendukung program ketahanan pangan dan energi nasional.
Gubernur Papua Barat menyampaikan bahwa dalam pertemuan tersebut, pemerintah pusat secara khusus meminta daerah untuk menyiapkan lahan bagi pengembangan sejumlah komoditas strategis. Komoditas yang dimaksud meliputi padi sebagai penguatan pangan, serta kakao, kopi, dan pala sebagai komoditas unggulan perkebunan. Selain itu, pemerintah juga diminta menyiapkan skema pengembangan energi alternatif berbasis etanol.
“Pak Menteri minta kita siapkan lahan, dan kita siap tindak lanjuti. Ini peluang besar bagi Papua Barat untuk berkembang lebih cepat,” ujar Gubernur.
Ia menjelaskan, saat ini Pemprov tengah melakukan pemetaan wilayah yang potensial untuk pengembangan komoditas tersebut, termasuk memastikan kesiapan lahan, dukungan infrastruktur dasar, serta keterlibatan masyarakat lokal.
Usulan resmi dari Pemerintah Provinsi Papua Barat dijadwalkan akan segera dikirim ke pemerintah pusat usai masa libur Lebaran. Proses ini akan melalui koordinasi teknis lintas sektor, baik dengan Kementerian Pertanian maupun instansi terkait lainnya, guna memastikan seluruh aspek perencanaan berjalan komprehensif.
Menurut Gubernur, Papua Barat memiliki modal kuat dalam pengembangan sektor ini, mengingat sejumlah komoditas unggulan daerah telah memiliki reputasi di pasar nasional hingga internasional.
Kakao dari wilayah Manokwari dan Manokwari Selatan, misalnya, telah menembus pasar ekspor dan dikenal memiliki kualitas yang kompetitif. Sementara itu, pala dari Fakfak dan Kaimana menjadi salah satu komoditas rempah unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di sisi lain, kopi dari Pegunungan Arfak juga mulai mendapat perhatian sebagai produk khas dengan cita rasa unik.
“Ini yang harus kita dorong. Kita tidak mulai dari nol, kita sudah punya basis komoditas yang kuat,” katanya.
Lebih jauh, pengembangan etanol juga dinilai sebagai langkah strategis dalam menjawab kebutuhan energi alternatif di masa depan. Selain berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sektor ini juga membuka peluang investasi baru serta penciptaan lapangan kerja di daerah.
Pemerintah Provinsi berharap, dengan masuknya program pengembangan ini dalam skema nasional, akan ada dukungan anggaran, teknologi, serta pendampingan dari pemerintah pusat untuk mempercepat realisasi di lapangan.
“Harapannya tentu bukan hanya peningkatan produksi, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha lokal,” tambahnya.
Pemprov juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, serta pihak swasta dalam mengelola potensi ini secara berkelanjutan.
Dengan perencanaan yang matang, Papua Barat optimistis dapat menjadi salah satu daerah penggerak utama di sektor pertanian dan energi terbarukan di Indonesia.
Langkah ini sekaligus menandai komitmen daerah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam secara produktif, tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan dan keseimbangan lingkungan. (JN)
