Sekretaris KONI Fakfak, Muhammad Taufiq Syafaat, (Foto: Risman Bauw).
FAKFAK,PinFunPapua.com – Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) atau Penurunan Kyu INKANAS Kabupaten Fakfak Semester I Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang evaluasi kemampuan para karateka, tetapi juga menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kejayaan karate di Kabupaten Fakfak. Di balik pergantian warna sabuk, tersimpan pesan tegas bahwa prestasi hanya dapat lahir dari pembinaan yang konsisten, karakter yang kuat, dan organisasi yang sehat.
Kegiatan yang mengusung tema “Bersama INKANAS Kita Raih Prestasi Dunia” itu digelar pada Minggu (19/7/2026) dan dihadiri Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Fakfak, Muhammad Taufiq Syafaat, mewakili Ketua Umum KONI Kabupaten Fakfak.
Dalam sambutannya, Taufiq memberikan apresiasi kepada INKANAS yang dinilainya tetap konsisten membina generasi karateka di Fakfak. Menurutnya, ujian kenaikan tingkat bukan sekadar formalitas atau pergantian warna sabuk, melainkan proses pendidikan yang membentuk atlet secara utuh.
“Karate bukan hanya mengajarkan teknik bertarung. Di dalamnya ada pendidikan fisik yang sehat, kedisiplinan, mental yang kuat, keberanian, rasa percaya diri, kemampuan mengendalikan emosi, hingga membentuk karakter yang rendah hati dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menjelaskan, UKT menjadi instrumen penting bagi pelatih untuk mengukur perkembangan kemampuan teknik, disiplin, dan kesiapan mental atlet setelah menjalani latihan secara rutin selama kurang lebih satu tahun.
Menurutnya, setiap sabuk yang disandang seorang karateka bukanlah simbol kebanggaan semata, tetapi amanah yang harus dijaga melalui kualitas kemampuan dan sikap sehari-hari.
“Sabuk bukan sekadar simbol. Di balik setiap warna sabuk terdapat tanggung jawab, kemampuan, disiplin, dan karakter yang harus terus dijaga oleh setiap karateka,” tegasnya.
Namun, di tengah semangat pembinaan atlet, Taufiq menyampaikan perhatian serius terhadap kondisi organisasi karate di Kabupaten Fakfak. Ia mengungkapkan bahwa masa kepengurusan Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Kabupaten Fakfak telah berakhir sehingga reorganisasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda.

Menurutnya, organisasi yang kuat merupakan fondasi utama dalam melahirkan atlet berprestasi. Tanpa tata kelola organisasi yang sehat, program pembinaan akan sulit berjalan secara maksimal.
“Kita tidak bisa berbicara tentang suksesnya pembinaan maupun prestasi apabila organisasinya belum sehat. Karena itu saya berharap FORKI Kabupaten Fakfak segera melakukan reorganisasi kepengurusan. Setelah organisasi kuat, program pembinaan dapat berjalan secara berkesinambungan, dan dari sanalah prestasi akan lahir,” katanya.
Ia berharap semangat pembinaan yang ditunjukkan INKANAS mampu menjadi inspirasi bagi seluruh dojo karate di Kabupaten Fakfak, bahkan menjadi contoh bagi cabang olahraga lainnya. Menurutnya, sinergi antara organisasi, pelatih, atlet, pemerintah, dan masyarakat merupakan kunci membangun ekosistem olahraga yang berdaya saing.
Taufiq juga optimistis Fakfak memiliki potensi besar untuk kembali melahirkan generasi emas karate. Ia mengingatkan bahwa daerah ini pernah mencatat sejarah dengan melahirkan karateka yang mampu mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional, di antaranya Yulisar Matuti, Reynold Hegemur, Ipin Maswatu, dan Safarudin Bauw.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa Fakfak memiliki sumber daya atlet yang berkualitas. Yang dibutuhkan saat ini adalah pembinaan yang berkelanjutan serta organisasi yang profesional agar kejayaan tersebut dapat kembali terulang.
“Fakfak pernah memiliki karateka yang mampu membawa nama Indonesia ke pentas internasional. Itu membuktikan bahwa kita memiliki potensi besar. Tinggal bagaimana organisasi, pelatih, dan seluruh pemangku kepentingan bersatu membangun sistem pembinaan yang lebih baik agar generasi emas itu lahir kembali,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Taufiq mengingatkan bahwa prestasi tidak pernah lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang ditempa dengan disiplin, kerja keras, dan karakter yang kuat.
“Prestasi tidak lahir dari bakat semata, tetapi dibangun melalui organisasi yang kuat, latihan yang disiplin, dan karakter yang terus ditempa. Sabuk boleh berganti warna, namun semangat untuk belajar, berlatih, dan berkembang tidak boleh pernah padam.”
“Karakter melahirkan disiplin, disiplin melahirkan prestasi, dan organisasi yang kuat akan menjaga prestasi itu tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.”
(Jurnalis : Risman Bauw).
