FAKFAK,PinFunPapua.com – Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, secara resmi membuka Intermediate Training atau Latihan Kader II (LK-II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Fakfak di Aula Diklat Fakfak, Minggu malam (20/9/2026).
Dalam sambutannya, Samaun Dahlan menyampaikan apresiasi kepada HMI Cabang Fakfak yang dinilai terus mengambil bagian dalam membangun tradisi intelektual, kepemimpinan dan pengabdian di tengah masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Fakfak, saya menyampaikan selamat melaksanakan Intermediate Training (LK-II) kepada seluruh peserta,” ujar Samaun.
Menurutnya, tema yang diangkat dalam LK-II HMI Cabang Fakfak sangat relevan dengan tantangan pembangunan Papua saat ini, yakni “Hegemoni Kekuasaan dan Arus Investasi Hilirisasi di Tanah Papua: Membangun Kader Intelektual Progresif sebagai Pengawal Keadilan Sosial dan Kedaulatan Daerah.”
Samaun menegaskan, pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi dan investasi. Lebih dari itu, pembangunan harus memperhatikan keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, penguatan masyarakat adat, peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kedaulatan daerah dalam menentukan arah pembangunan.
Ia mengatakan investasi dan hilirisasi pada dasarnya dapat menjadi instrumen penting untuk menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat perekonomian daerah.
Namun, menurutnya, seluruh proses tersebut harus tetap ditempatkan dalam kerangka kepentingan masyarakat.
“Investasi harus dibangun di atas prinsip keadilan, transparansi, keberlanjutan, kemitraan dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat, termasuk masyarakat adat,” tegasnya.
Mahasiswa Jangan Hanya Jadi Penonton
Samaun juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan yang terjadi di Papua.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu membaca perubahan, mengkritisi kebijakan secara konstruktif, menawarkan gagasan serta ikut mengawal pembangunan agar tetap berjalan sesuai kepentingan masyarakat.
Ia berharap kader HMI mampu tumbuh sebagai generasi yang memiliki kemampuan intelektual, integritas moral, keberanian menyampaikan kebenaran serta kemampuan membangun dialog dan kolaborasi.
“Kritik sangat diperlukan dalam pembangunan demokrasi. Tetapi kritik akan menjadi lebih bermakna apabila disertai data, argumentasi yang kuat, etika serta solusi,” katanya.
Samaun menambahkan, kader intelektual progresif bukan hanya mereka yang mampu menyampaikan kritik, tetapi juga mampu mengubah kritik menjadi gagasan dan gagasan menjadi gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ilmu tanpa keberanian hanya menjadi pengetahuan, sementara keberanian tanpa ilmu dapat kehilangan arah. Karena itu, intelektual muda harus mampu menyatukan ilmu, moral dan keberanian untuk kepentingan masyarakat,” pesannya.
Satu Tungku Tiga Batu Jadi Fondasi
Lebih lanjut, Bupati menyinggung sejarah panjang Fakfak sebagai daerah yang terbuka terhadap berbagai perjumpaan budaya, agama, perdagangan dan perkembangan sosial.
Menurutnya, filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” merupakan kekuatan sosial yang mengajarkan pentingnya persaudaraan, toleransi, keseimbangan dan kehidupan bersama.
Nilai-nilai tersebut, kata dia, sangat penting dalam menghadapi berbagai perubahan di daerah, termasuk perubahan ekonomi, investasi dan pembangunan.
“Kita membutuhkan generasi muda yang mampu menjaga identitas daerah sekaligus terbuka terhadap kemajuan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Fakfak harus berkembang dan maju, tetapi kemajuan tersebut tidak boleh tercerabut dari akar budaya, kearifan lokal, kelestarian lingkungan dan kepentingan masyarakat Fakfak.
Bangun Kolaborasi, Bukan Sekadar Perbedaan
Samaun juga menekankan bahwa pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun daerah.
Pembangunan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, akademisi, pemuda, mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat.
Ia mengajak seluruh pihak membangun tradisi demokrasi yang sehat, di mana perbedaan pandangan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi energi bersama untuk mencari solusi terbaik bagi daerah.
“Jadikan perbedaan pandangan sebagai ruang untuk bertukar gagasan, bukan sebagai alasan untuk memutus persaudaraan,” pesannya.
Kepada seluruh peserta LK-II HMI Cabang Fakfak, Samaun berpesan agar mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, memperkuat persaudaraan dan mempertajam gagasan.
“Jadilah intelektual yang berpikir merdeka, kader yang berintegritas, pemimpin yang berpihak kepada kepentingan masyarakat dan generasi Papua yang mampu mengawal pembangunan dengan ilmu, moral dan keberanian,” tegasnya.
Dengan memohon ridho Allah SWT, Bupati Samaun Dahlan kemudian secara resmi menyatakan Intermediate Training (LK-II) HMI Cabang Fakfak dibuka.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan kader-kader terbaik yang memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Kabupaten Fakfak, Tanah Papua dan Indonesia.
“Pemuda hari ini adalah penentu arah daerah esok hari. Karena itu, jangan hanya mewarisi keadaan, tetapi belajarlah untuk memperbaikinya,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dandim 1803/Fakfak Letkol Inf Wahlin Rahman, S.Pd., Kapolres Fakfak AKBP Naim Ishak, S.H., S.I.K., M.H., Dansubdenpom XVIII/1-2 Fakfak Kapten Cpm Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi., Direktur RSUD Fakfak Farid Fauzan Mahubessy, S.Kep., M.A.R.S., Ketua Umum Badko HMI Papua Barat–Papua Barat Daya Abdul Qair Loklomin, Para Senior HMI, kader HMI Cabang Fakfak serta seluruh peserta LK-II.
(Jurnalis : Risman Bauw).
