Senator Papua Barat, Dr. Filep Wamafma, menekankan pentingnya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengaturan Reforma Agraria
MANOKWARI, PinFunPapua.com – Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, S.H., M.Hum., mengajak masyarakat di Kabupaten Manokwari mendukung pelaksanaan imunisasi campak dan mempercayai informasi yang disampaikan Dinas Kesehatan serta tenaga medis.
Ajakan tersebut disampaikan Filep di tengah upaya pemerintah menangani Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Manokwari melalui pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak yang dijadwalkan berlangsung selama 12 hari kerja, mulai 5 hingga 17 Oktober 2026.
Filep mengatakan, masyarakat perlu memperoleh informasi mengenai imunisasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, program kesehatan yang dilaksanakan pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan tenaga medis merupakan bagian dari upaya memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat sekaligus mencegah penyebaran penyakit.
“Masyarakat di mana saja berada, percayalah kepada Dinas Kesehatan, petugas kesehatan bahwa apa yang dilakukan ini tidak sedikit pun merugikan masyarakat,” kata Filep melalui sambungan telepon.
Ia menegaskan, pelaksanaan imunisasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membantu masyarakat menjaga kesehatan dan mencegah ancaman penyebaran virus.
“Justru yang dilakukan ini adalah untuk membantu masyarakat hidup jauh lebih sehat dan terhindar dari ancaman penyebaran virus,” ujarnya.
Filep juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi mengenai imunisasi yang tidak memiliki sumber dan dasar yang jelas. Menurutnya, informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan keraguan di tengah masyarakat dan berpotensi menghambat upaya pemerintah dalam menangani penyebaran penyakit.
“Ada isu, hoaks, asumsi atau opini, itu diabaikan. Yang utama adalah kesehatan,” tegasnya.
Menurut Filep, masih adanya keraguan sebagian masyarakat terhadap imunisasi menunjukkan bahwa edukasi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tenaga kesehatan tidak hanya bertugas memberikan pelayanan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjelaskan tujuan dan manfaat imunisasi kepada masyarakat.
Ia meminta edukasi dilakukan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat serta mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya setempat. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat memahami alasan dan tujuan pelaksanaan program imunisasi secara lebih baik.
Filep juga mengakui bahwa masyarakat Papua memiliki pengetahuan mengenai pengobatan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, tetapi menurutnya keberadaan pengobatan tradisional tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan pelayanan kesehatan dan program pemerintah.
“Jangan kemudian kita mengabaikan apa yang direncanakan oleh pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan tenaga medis,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pembangunan masyarakat Papua yang sehat harus dimulai dari upaya pencegahan. Edukasi kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat, serta penguatan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman penyakit menular.
Menurut Filep, keberhasilan penanganan KLB campak tidak hanya bergantung pada pemerintah dan tenaga kesehatan. Dukungan masyarakat juga menjadi faktor penting agar pelaksanaan imunisasi dapat menjangkau anak-anak yang menjadi sasaran.
Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan ORI Campak di Kabupaten Manokwari.
Filep berharap masyarakat dapat berperan aktif dengan memperoleh informasi kesehatan melalui sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga diharapkan tidak menjadikan informasi yang belum terverifikasi sebagai dasar untuk menolak imunisasi.
“Yang utama adalah kesehatan,” tegas Filep.
ORI Campak Sasar 95 Persen Anak
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari bersama Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat telah mempersiapkan pelaksanaan ORI Campak sebagai respons terhadap ditemukannya kasus campak di sejumlah wilayah Kabupaten Manokwari.
Pelaksanaan imunisasi tersebut dijadwalkan berlangsung selama 12 hari kerja, mulai 5 hingga 17 Oktober 2026. Sebanyak 11 puskesmas di Kabupaten Manokwari dilibatkan dalam pelaksanaan program tersebut.
Pemerintah menargetkan cakupan imunisasi sedikitnya 95 persen dari jumlah anak yang menjadi sasaran. Target tersebut diharapkan dapat dicapai melalui keterlibatan tenaga kesehatan dan dukungan masyarakat di berbagai wilayah.
Pelaksanaan ORI dilakukan setelah ditemukan kasus campak di sejumlah wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Manokwari. Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan, sekitar 70 kasus tercatat hingga minggu ke-36 tahun 2026 dan tersebar di sejumlah wilayah kerja puskesmas.
Kondisi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan langkah penanganan melalui ORI Campak. Pelaksanaan imunisasi diharapkan dapat membantu meningkatkan perlindungan terhadap anak-anak yang menjadi sasaran sekaligus mencegah meluasnya penyebaran penyakit.
Filep meminta masyarakat memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan keluarga. Ia juga mendorong orang tua dan keluarga untuk berkomunikasi dengan tenaga kesehatan apabila membutuhkan penjelasan mengenai imunisasi maupun kondisi kesehatan anak.
Menurutnya, komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan masyarakat diperlukan agar setiap program kesehatan pemerintah dapat dipahami dan dilaksanakan secara bersama-sama.
Dengan dukungan masyarakat, pemerintah dan tenaga kesehatan diharapkan dapat melaksanakan ORI Campak sesuai sasaran dan target yang telah ditetapkan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan pencegahan penyakit serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. (red/rls)
