Kepala BLU Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengatakan kondisi jarak pandang telah berada di bawah standar keselamatan penerbangan sejak Selasa pagi. (FOTO : Edy )
MANOKWARI, PinFunPapua.com – Sebanyak 648 penumpang terdampak pembatalan penerbangan di Bandara Rendani Manokwari, Papua Barat, setelah kabut asap menyebabkan jarak pandang turun hingga sekitar 1 kilometer dan berada di bawah batas keselamatan penerbangan.
Kondisi tersebut terjadi pada Selasa setelah kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbawa hingga wilayah Manokwari. Penurunan jarak pandang membuat sejumlah maskapai membatalkan penerbangan dari dan menuju Bandara Rendani demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Kepala BLU Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengatakan kondisi jarak pandang telah berada di bawah standar keselamatan penerbangan sejak Selasa pagi.
Berdasarkan pemantauan dan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Manokwari, jarak pandang pada pagi hari berada di kisaran 3 kilometer. Namun, kondisi tersebut terus memburuk seiring meningkatnya konsentrasi asap hingga jarak pandang turun menjadi sekitar 1 kilometer pada siang hari.
“Dari tadi pagi, jarak pandang di bawah standar. Itu menyangkut keselamatan penerbangan. Hal itu dilaporkan BMKG Manokwari, jarak pandang 3 kilometer di bawah standarnya. Kemudian siang malah semakin banyak asap di Bandara Rendani, menurun menjadi 1 kilometer,” kata Herman.
Menurutnya, kondisi jarak pandang yang hanya sekitar 1 kilometer belum memungkinkan penerbangan dilaksanakan secara normal. Karena itu, maskapai mengambil langkah pembatalan penerbangan sebagai bagian dari prosedur keselamatan.
Herman menyebut sejumlah maskapai yang terdampak pembatalan penerbangan antara lain Super Air Jet, Lion Air, Batik Air, dan Wings Air.
“Baik itu maskapai Super Air Jet, Lion Air, Batik, maupun Wings membatalkan penerbangan karena saat ini jarak pandang belum membaik, masih di kisaran 1 kilometer. Hal ini dapat mengganggu keselamatan penerbangan,” ujarnya.
648 Penumpang Terdampak Pembatalan
Herman merinci, total penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan di Bandara Rendani Manokwari mencapai 648 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 170 penumpang merupakan pengguna jasa Super Air Jet. Kemudian 149 penumpang Lion Air dan 152 penumpang Batik Air.
Selain itu, terdapat 116 penumpang Lion Air dengan tujuan Sorong, 47 penumpang Wings Air tujuan Kaimana, serta 14 penumpang dengan tujuan Nabire.
“Jadi total penumpang di Bandara Rendani Manokwari 648 penumpang batal berangkat akibat kabut asap,” kata Herman.

Pembatalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap penumpang yang hendak berangkat dari Manokwari, tetapi juga terhadap jadwal penerbangan yang seharusnya tiba dan berangkat dari Bandara Rendani.
Herman menjelaskan, kondisi penerbangan di Bandara Rendani sebelumnya sempat berangsur normal. Pada Sabtu dan Minggu masih terdapat beberapa penerbangan yang mengalami pembatalan, sedangkan pada Senin sebagian besar penerbangan dapat berjalan normal.
Namun, kondisi kembali berubah pada Selasa ketika kabut asap semakin tebal dan jarak pandang menurun.
“Namun, Selasa ini semua penerbangan yang maskapai Lion Group dibatalkan,” ungkapnya.
Kondisi Kabut Asap Dipantau Tiga Hari
Pihak Bandara Rendani Manokwari akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kabut asap dan kondisi jarak pandang dalam beberapa hari ke depan.
Menurut Herman, perkembangan kondisi penerbangan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan cuaca dan jarak pandang di sekitar wilayah Bandara Rendani.
“Kita lihat tiga hari ke depan cuaca kabut asapnya. Akan di-update lagi setiap harinya. Mudah-mudahan tidak sampai tiga hari, penerbangan sudah berjalan normal lagi,” tuturnya.
Ia mengatakan pihak bandara berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga aktivitas penerbangan dapat kembali berjalan seperti biasa.
Namun, selama jarak pandang masih berada di bawah batas yang dipersyaratkan untuk keselamatan penerbangan, keputusan pembatalan atau penundaan penerbangan tetap menjadi langkah yang harus dilakukan.
Herman juga meminta para penumpang yang terdampak pembatalan untuk bersabar dan memahami kondisi yang terjadi. Menurutnya, pihak bandara maupun maskapai pada dasarnya menginginkan seluruh penerbangan dapat berjalan normal, tetapi faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama.
Pembatalan penerbangan, kata dia, merupakan kondisi yang berada di luar kendali pihak bandara dan dilakukan untuk mencegah risiko terhadap keselamatan penerbangan.
“Kami inginkan penerbangan berjalan normal, bapak dan ibu bisa berangkat dan tiba dengan selamat,” pungkasnya. (Dhy)
