Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas II Rendani, Manokwari, Fadri Prasetya mengatakan, Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 titik masuk kategori tingkat kepercayaan rendah, 1.532 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan 26 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
MANOKWARI, PinFunpapua.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Manokwari mencatat sebanyak 1.571 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Papua Barat hingga 6 Oktober 2026.
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas II Rendani, Manokwari, Fadri Prasetya mengatakan, Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 titik masuk kategori tingkat kepercayaan rendah, 1.532 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan 26 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
BMKG menyebut banyaknya titik panas tersebut turut berkontribusi terhadap kabut asap yang menyelimuti Manokwari dan sejumlah wilayah di Papua Barat.
“Per hari kemarin yang masuk dalam wilayah Papua Barat, kategori rendah ada 13 titik. Sedangkan tingkat kepercayaan sedang ada 1.532 titik panas dan tingkat kepercayaan tinggi ada 26 titik panas,” ujar pihak BMKG Manokwari.
Menurut BMKG, kondisi tersebut diperparah oleh arah angin yang bergerak dari tenggara atau timur-selatan menuju wilayah Manokwari.
Selain berasal dari titik panas di Papua Barat, kabut asap yang menyelimuti Manokwari juga diduga mendapat kiriman asap dari wilayah Papua Selatan, khususnya Merauke.
“Total hari kemarin ada 1.571 titik. Kita juga bisa mendapatkan kiriman dari Papua Selatan. Dari pantauan satelit sekitar pukul 10.00, arah angin dari timur-selatan bergerak ke barat dan sedikit ke utara,” katanya.
BMKG menyebut sejumlah wilayah yang turut terdampak kabut asap antara lain Fakfak, Kaimana, Teluk Bintuni, Manokwari Selatan, dan Manokwari.

Jarak Pandang Turun hingga 500 Meter
Kondisi kabut asap di Manokwari semakin memburuk. Jarak pandang yang sebelumnya rata-rata sekitar 2 kilometer pada 5 Oktober 2026, turun menjadi sekitar 1 kilometer pada 6 Oktober 2026.
Bahkan, hasil pengamatan cuaca pada pukul 16.00 WIT menunjukkan jarak pandang kembali menurun hingga sekitar 500 meter.
“Ketebalan kabut asap kemarin rata-rata jarak pandang sekitar 2 kilometer. Sedangkan hari ini, 6 Oktober 2026, sekitar 1 kilometer. Bahkan pukul 4 sore turun menjadi 500 meter dari segi jarak pandang,” tuturnya.
BMKG menjelaskan, penanganan kabut asap pada dasarnya membutuhkan mitigasi terhadap sumber api atau titik panas. Namun, dari sisi meteorologi, kondisi angin dan hujan menjadi faktor penting untuk membantu mengurangi konsentrasi asap.
“Kalau angin kencang, partikel-partikel asap bisa bergerak sehingga asap dapat bergeser menjauhi Manokwari. Namun, kondisi angin di Manokwari saat ini relatif tenang sehingga tidak terlalu mendukung untuk menggerakkan asap menjauh,” jelasnya.
Hujan Diperkirakan Minim
Selain angin, BMKG menyebut peluang hujan di Manokwari dalam beberapa hari ke depan relatif kecil.
Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi Oktober yang secara klimatologis merupakan salah satu periode dengan curah hujan yang relatif rendah. Kondisi tersebut juga diperkuat oleh fenomena El Nino.
“Untuk hujan sendiri di Manokwari beberapa hari ke depan agak sulit. Kita tahu bahwa Oktober masuk dalam periode dengan jumlah hujan paling sedikit dalam satu bulan. Apalagi ada El Nino, sehingga peluang terjadinya hujan cukup kecil,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, BMKG memperkirakan kabut asap masih berpotensi bertahan dalam beberapa hari ke depan apabila tidak terjadi hujan atau perubahan pola angin yang signifikan.
“Jadi dari segi meteorologis, baik angin maupun hujan, belum mendukung Manokwari untuk terhindar dari kabut asap dalam beberapa hari ke depan. Kalau tiba-tiba terjadi hujan dan angin yang cukup kencang, partikel-partikel asap bisa bergeser menjauh dari Manokwari,” tuturnya. (Dhy)
