MANOKWARI, PinFunPapua.com – Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Barat Judson Ferdinandus Waprak menyerukan kepedulian bersama dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup di Tanah Papua. Seruan tersebut disampaikan menyusul kondisi lingkungan yang kembali menjadi perhatian akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah yang menyebabkan munculnya asap serta berpotensi menurunkan kualitas udara.
Ketua MRP Papua Barat Judson Ferdinandus Waprak menilai persoalan kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan ekologis. Bagi masyarakat adat Papua, hutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan karena menjadi ruang hidup, sumber penghidupan, serta bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, Judson mengajak seluruh masyarakat, pemerintah, masyarakat adat, aparat terkait, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kepedulian bersama terhadap kelestarian alam di Tanah Papua.
Menurutnya, hubungan manusia dengan alam telah menjadi bagian dari nilai yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Papua.
“Hutan ibarat pertemanan antara dua sahabat yang saling menjaga. Manusia menjaga hutan, dan hutan menjaga manusia. Pesan seperti ini sudah lama diwariskan oleh leluhur kita,” ujar Judson.
Ia mengatakan, pesan tersebut juga kerap disampaikan Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., melalui ungkapan, “Kita jaga hutan, hutan jaga kita. Kita jaga laut, laut jaga kita.”
Menurut Ketua MRP Papua Barat, pesan tersebut bukan sekadar ungkapan, melainkan pengingat moral mengenai hubungan manusia dengan alam. Kehidupan manusia, terutama masyarakat yang masih bergantung langsung pada sumber daya alam, sangat berkaitan dengan kondisi hutan, laut, tanah, dan lingkungan di sekitarnya.
Membuka Kesadaran untuk Menjaga Alam
Judson mengajak masyarakat untuk membuka ruang kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari menjaga martabat manusia sekaligus bentuk rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan.
“Mari kita membuka ruang hati kita untuk selalu menjaga martabat sebagai manusia yang mencintai kebaikan dan seluruh ciptaan Tuhan. Ketika alam kita rusak, pada akhirnya kehidupan kita sendiri yang akan merasakan dampaknya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa bagi masyarakat adat Papua, hutan memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar nilai ekonomi. Hutan memiliki nilai sosial, budaya, spiritual, dan ekologis yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Hutan juga menjadi tempat masyarakat memperoleh berbagai kebutuhan hidup, termasuk pangan, sumber air, bahan untuk keperluan rumah tangga, serta berbagai hasil alam lainnya. Selain itu, kawasan hutan memiliki keterkaitan dengan identitas budaya dan wilayah adat masyarakat Papua.
Karena itu, pemanfaatan hutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan ruang hidup masyarakat merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Namun, pemanfaatan tersebut harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan serta menghormati hak-hak masyarakat adat.
“Kebutuhan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keberlangsungan hutan,” tegasnya.
Pemerintah dan Masyarakat Harus Bergerak Bersama
Judson juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan di wilayah masyarakat adat pada akhirnya dapat memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Kebakaran hutan dan lahan, kerusakan tutupan hutan, pencemaran udara, serta perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk kesehatan, ketersediaan sumber air, mata pencaharian, dan keberlangsungan ekosistem.
Karena itu, upaya menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat langkah pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan, meningkatkan pengawasan, serta memastikan masyarakat adat dilibatkan dalam upaya perlindungan wilayah hutan dan lingkungan hidup.
Menurut Ketua MRP Papua Barat, masyarakat adat juga memiliki peran penting karena mereka merupakan bagian yang hidup dan berinteraksi langsung dengan wilayah adatnya.
Pengetahuan lokal yang diwariskan oleh leluhur, menurutnya, dapat menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan.
“Hutan Papua bukan hanya milik generasi hari ini. Hutan adalah titipan bagi generasi yang akan datang,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu hingga kerusakan lingkungan menjadi semakin besar baru kemudian melakukan tindakan.
“Mari kita berhenti sejenak dan melihat kembali hubungan kita dengan alam. Jangan sampai apa yang diwariskan leluhur kepada kita hilang karena kita tidak mampu menjaganya. Kalau hutan kita jaga, kehidupan kita juga akan terjaga,” katanya.
Seruan Menjaga Hutan Papua
Di tengah kondisi kebakaran hutan dan munculnya kabut asap di sejumlah wilayah, Ketua MRP Papua Barat menyerukan agar persoalan lingkungan menjadi perhatian bersama.
Pemerintah diharapkan meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, memperkuat pengawasan, serta melibatkan masyarakat adat dalam menjaga wilayah hutan dan lingkungan hidup.
Sementara itu, masyarakat diharapkan turut menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal masing-masing, menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan titik api, potensi kebakaran, atau kerusakan lingkungan.
Ketua MRP Papua Barat Judson Ferdinandus Waprak menegaskan bahwa menjaga hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Sebab, ketika hutan kehilangan fungsi dan kehidupannya, manusia juga akan merasakan dampaknya. Oleh karena itu, pelestarian hutan harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat Papua.
“Mari jaga hutan. Mari jaga tanah. Mari jaga laut. Mari jaga udara. Mari jaga Papua untuk anak cucu kita,” serunya.
Ia berharap kepedulian terhadap lingkungan dapat terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat sehingga kekayaan alam Tanah Papua tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Hutan dijaga, kehidupan terjaga. Alam dihormati, manusia diselamatkan. (red )
