SERAM BAGIAN TIMUR, PinFunPapua.com – Di tengah kemarau panjang yang berdampak pada ketersediaan air bersih, masyarakat Desa Administratif Tinarin, Kecamatan Gorom Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), memilih untuk bersimpuh dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, memohon turunnya hujan yang membawa keberkahan bagi negeri mereka.
Bukan sekadar ritual keagamaan, doa bersama yang digelar pada Selasa (13/10/2026) ini menjadi cerminan kegelisahan, harapan, sekaligus keteguhan iman masyarakat dalam menghadapi kondisi alam yang kian menantang.
Masyarakat dari berbagai unsur, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda hingga tokoh perempuan, berkumpul dengan satu niat: memohon agar kemarau panjang segera berlalu, ketersediaan air kembali membaik, dan Desa Administratif Tinarin senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
Di balik setiap lantunan doa, tersimpan harapan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada kegelisahan tentang kebutuhan air bersih, ada kecemasan menghadapi hari-hari tanpa kepastian hujan, serta ada permohonan tulus agar setiap keluarga diberikan kekuatan dalam melewati ujian tersebut.
Kepala Dusun, Ramli Rumodar, menjelaskan bahwa kondisi kemarau yang melanda wilayah tersebut menjadi perhatian masyarakat.
Ramli berharap agar hujan segera turun, karna air adalah sumber kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Khotib Masjid Al-Azhar Tinarin, Abdul Wahid, menjelaskan bahwa doa memohon hujan merupakan bentuk ikhtiar spiritual umat Islam dengan memohon pertolongan dan rahmat Allah SWT di tengah kondisi alam yang sulit.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap memperkuat keimanan, menjaga persaudaraan, serta saling membantu dalam menghadapi dampak kemarau.

Bagi masyarakat Tinarin, doa tersebut bukan hanya tentang turunnya hujan dari langit, melainkan juga tentang hadirnya ketenangan, keselamatan, dan kekuatan untuk tetap bertahan di tengah keadaan yang penuh tantangan.
Dalam untaian doa yang dipanjatkan, masyarakat turut menyampaikan harapan agar hujan yang turun kelak membawa keberkahan bagi negeri dan keluarga mereka. Doa juga dipanjatkan bagi anggota keluarga yang hingga kini masih dalam proses pencarian, dengan harapan agar segera ditemukan dalam keadaan selamat dan sehat.
Di tengah suasana penuh harap itu, masyarakat Tinarin menunjukkan bahwa ketika keadaan menjadi sulit, kebersamaan dan kepedulian merupakan kekuatan yang tidak boleh hilang.
“Ketika bumi mulai mengering dan langit belum menurunkan hujan, jangan biarkan harapan ikut mengering. Sebab doa menguatkan hati, ikhtiar menuntun langkah, dan kebersamaan membuat manusia mampu bertahan menghadapi ujian.”
Doa bersama ini menjadi pengingat bahwa menghadapi kemarau bukan hanya soal menanti hujan, tetapi juga tentang menjaga persaudaraan, memperkuat solidaritas, dan memastikan bahwa tidak ada warga yang harus menghadapi kesulitan seorang diri.
Masyarakat pun berharap agar kemarau panjang segera berakhir, hujan yang membawa berkah kembali membasahi bumi Tinarin, dan seluruh warga senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta perlindungan oleh Allah SWT.
Sebab, di tengah kemarau yang menguji kehidupan, harapan tetap tumbuh selama manusia tidak berhenti berdoa, berikhtiar, dan saling menguatkan.
(Jurnalis : Risman Bauw).
