MANOKWARI,PinFunPapua.com – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Papua Barat terus dilakukan untuk mendukung upaya penanganan dampak kabut asap. Di sisi lain, kondisi angin yang masih dominan bergerak dari timur ke barat menyebabkan asap dari wilayah Papua Selatan, khususnya Merauke, berpotensi terbawa hingga ke Papua Barat.
Koordinator Lapangan Pelaksanaan OMC Papua Barat dari PT Smart Cakrawala Aviation, Fais Ramadan, mengatakan kondisi cuaca di Papua Barat diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir Oktober 2026, sekitar tanggal 20-an.
Menurut Fais, hujan masih dapat terjadi sebelum musim hujan tiba. Namun, intensitas dan frekuensinya belum konsisten karena kondisi atmosfer yang masih labil.
“Kalau belum memasuki musim hujan, hujan tetap bisa terjadi, tetapi tidak konsisten,” kata Fais.
Ia menjelaskan, ketika musim hujan telah tiba, curah hujan akan cenderung lebih teratur. Hujan dapat turun dengan intensitas ringan hingga lebat dan berpotensi terjadi hampir setiap hari.
“Ketika musim hujan sudah tiba, hujannya akan lebih konsisten. Kadang hujan ringan, kadang lebat, bahkan mungkin setiap hari,” ujarnya.
Fais mengatakan, arah angin yang dominan bergerak dari timur ke barat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan asap dari wilayah Merauke terbawa ke sejumlah daerah di Papua Barat.
Pekan lalu, kabut asap bahkan telah mencapai Manokwari. Namun, perubahan pergerakan dan kecepatan angin membuat sebaran asap tidak selalu mengarah ke wilayah tersebut.
“Anginnya masih cukup kuat dari timur ke barat. Itulah sebabnya asap dari Kabupaten Merauke bisa masuk ke wilayah Papua Barat,” katanya.
Menurut Fais, dalam beberapa hari terakhir kondisi kabut asap di Manokwari mulai membaik. Hal ini karena asap dari wilayah lain tidak lagi banyak terbawa menuju Manokwari akibat perubahan arah pergerakannya.
Ia menyebutkan, pergerakan asap dapat menjangkau sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat, bergantung pada kondisi angin yang berkembang.
Terkait pelaksanaan OMC, Fais menjelaskan bahwa bahan yang digunakan berupa garam atau natrium klorida (NaCl). Menurut dia, bahan tersebut tidak menimbulkan dampak lingkungan yang berarti apabila digunakan sesuai prosedur operasional.
Ia mengatakan, jumlah garam yang disebarkan relatif kecil jika dibandingkan dengan volume air yang terdapat di dalam awan.
“Kalau dibandingkan dengan jumlah air dalam awan, satu ton itu hanya sedikit. Jadi, bahan baku garam tidak berpengaruh secara signifikan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, setiap penerbangan OMC menggunakan sekitar satu ton bahan baku garam. Jadwal penerbangan disesuaikan dengan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terutama ketika terdapat potensi awan yang dinilai mendukung pelaksanaan penyemaian.
“Rencana penerbangan menyesuaikan rekomendasi BMKG. Ketika ada potensi awan yang memenuhi kondisi untuk penyemaian, kami akan melaksanakan operasi,” kata Fais.
Fais menambahkan, pelaksanaan OMC di Papua Barat saat ini ditargetkan berlangsung hingga 15 Oktober 2026. Namun, ia belum dapat memastikan apakah operasi tersebut akan diperpanjang.
“Target dari BNPB sampai tanggal 15 Oktober. Saya masih belum mengetahui apakah akan ada perpanjangan atau tidak,” ujarnya.
Pelaksanaan operasi selanjutnya akan mengikuti kebutuhan di lapangan serta rekomendasi teknis terkait kondisi cuaca.
(Jurnalis : Dhy).
