FAKFAK,PinFunPapua.com – Musyawarah Daerah (Musda) III Kerukunan Keluarga Seram Bagian Timur (KKSBT) Kabupaten Fakfak resmi dibuka di Aula Multifungsi RRI Fakfak, Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat persaudaraan, menjaga kelestarian adat dan budaya, sekaligus menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan.
Pembukaan kegiatan diawali dengan prosesi adat minum kopi sebagai simbol penghormatan, kebersamaan, dan eratnya ikatan kekeluargaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Seram Bagian Timur.
Dalam laporan panitia, Ketua Panitia Saleh Hindom menegaskan bahwa organisasi kemasyarakatan (ormas) memiliki peran strategis dalam memperkuat partisipasi masyarakat, memberdayakan warga, menjaga nilai-nilai sosial, serta mendukung pembangunan demi kepentingan bangsa dan negara.
Menurutnya, KKSBT merupakan wadah pemersatu masyarakat Seram Bagian Timur yang bertujuan mempererat tali persaudaraan sekaligus melestarikan identitas budaya, terutama bagi masyarakat yang berada jauh dari tanah leluhur.
Ia menjelaskan, KKSBT di Kabupaten Fakfak pertama kali diresmikan pada Sabtu, 15 November 2009, di bawah kepemimpinan H. Kasim Rumatumia, S.E. Selanjutnya, organisasi tersebut dipimpin oleh H. Jiran Daeng Parani pada periode 2016–2021.
Seiring perjalanan organisasi, Musda III kali ini tidak hanya menjadi forum pergantian atau penataan kepemimpinan, tetapi juga membawa agenda penting terkait penyesuaian nomenklatur organisasi.
Saleh Hindom menyampaikan bahwa pelaksanaan Musda III KKSBT telah memperoleh rekomendasi Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Besar Seram Bagian Timur (IKB SBT) melalui surat Nomor 24/DPP.IKB.SBT/REG/X/2026 tertanggal 24 Oktober 2026.
Rekomendasi tersebut memuat mandat pembentukan Dewan Pimpinan Cabang IKB SBT serta pembentukan Dewan Pimpinan Daerah IKB SBT Provinsi Papua Barat.
Dengan adanya mandat tersebut, forum yang semula dilaksanakan sebagai Musda III KKSBT di Kabupaten Fakfak, menurut laporan panitia, selanjutnya akan diarahkan menjadi Musda I IKB SBT Kabupaten Fakfak, menyesuaikan nomenklatur organisasi yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat di Provinsi Maluku.
Perubahan ini menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi. Namun, penyesuaian nama dan struktur harus tetap berjalan seiring dengan penguatan persatuan, kesinambungan kepemimpinan, serta komitmen melayani seluruh anggota dan masyarakat.

Musda kali ini mengusung tema: “Melahirkan Pemimpin Cerdas yang Amanah, Konsisten dan Bertanggungjawab, Mempererat Tali Persaudaraan, Merawat Tradisi, Menjaga Identitas dan Mewariskan Kearifan Lokal demi Kemajuan Masyarakat Seram Bagian Timur.”
Tema tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan organisasi tidak cukup hanya mengandalkan jabatan dan kewenangan. Seorang pemimpin dituntut memiliki integritas, konsistensi, serta tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan anggota dan mengutamakan kepentingan bersama.
KKSBT juga mengusung motto “TABULIK KITA WOISA, TABASAU TABATETA”, yang menjadi identitas kebersamaan masyarakat Seram Bagian Timur. Makna dan penafsiran resmi motto tersebut dapat ditegaskan lebih lanjut oleh pihak organisasi agar penyampaiannya tetap sesuai dengan nilai adat yang diwariskan.
Dalam laporan panitia, Saleh Hindom turut menekankan sejumlah fungsi penting organisasi, mulai dari memperkuat silaturahmi, membangun dukungan sosial dan ekonomi bagi anggota yang mengalami musibah, hingga menjaga adat istiadat, bahasa daerah, seni, serta tradisi leluhur agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Selain itu, organisasi diharapkan menjadi ruang penyelesaian persoalan internal melalui musyawarah dan pendekatan kekeluargaan, sekaligus menjembatani komunikasi masyarakat dengan warga setempat dan pemerintah.
Musda III KKSBT diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial atau forum pemilihan kepemimpinan semata. Lebih dari itu, forum ini harus mampu melahirkan keputusan konkret, program kerja yang menyentuh kebutuhan anggota, serta kepemimpinan yang sanggup menjaga kehormatan organisasi.
Persaudaraan akan kehilangan maknanya apabila hanya diucapkan dalam forum, tetapi tidak diwujudkan ketika sesama anggota menghadapi kesulitan. Demikian pula, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui simbol dan prosesi adat, tetapi harus dilanjutkan dengan pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
“Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang sekadar berdiri paling depan, melainkan mereka yang bersedia berjalan bersama, mendengar suara anggota, dan bertanggung jawab atas setiap amanah yang dipercayakan kepadanya.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya jumlah anggota atau megahnya kegiatan, tetapi oleh kualitas persatuan, ketulusan pengabdian, dan kemampuan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri Bupati Fakfak Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP.; Sekretaris Daerah Kabupaten Fakfak Arif H. Rumagesan, S.Sos., M.AP.; Dandim 1803/Fakfak Letkol Inf Wahlin Rahman, S.Pd.; Kapolres Fakfak AKBP Naim Ishak, S.H., S.I.K., M.H.; Ketua DPRK Fakfak Amir Rumbouw, S.T.; perwakilan Dewan Adat Fakfak, Hasan Namudat; Ketua Lembaga Masyarakat Adat Fakfak Leo Tuturop; para sesepuh dan tokoh masyarakat; serta masyarakat Seram Bagian Timur di Kabupaten Fakfak.
Musda ini diharapkan menjadi titik penguatan organisasi agar tetap solid, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan terus berkontribusi bagi kehidupan sosial kemasyarakatan di Kabupaten Fakfak.
Pada akhirnya, persatuan bukan sekadar warisan leluhur yang harus dijaga, melainkan tanggung jawab bersama yang harus diteruskan kepada generasi mendatang.
(Jurnalis : Risman Bauw).
