JAKARTA, PinFunPapua.com – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-79 tahun ini berlangsung meriah dan penuh makna, ditandai dengan keterlibatan sejumlah organisasi keagamaan besar di Indonesia dalam defile kebangsaan. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata keharmonisan dan kedekatan antara Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan.
Beragam organisasi keagamaan turut memeriahkan jalannya defile, di antaranya Persatuan Islam (Persis) yang berdiri sejak tahun 1923, Sarekat Islam (SI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada tahun 1912, serta organisasi perempuan muda Nahdlatul Ulama, Fatayat NU, yang berdiri pada tahun 1950. Selain itu, Muslimat NU juga tampil memukau dalam perayaan tersebut.
Tidak hanya itu, dua organisasi besar lainnya juga menampilkan kekompakan dan kesiapsiagaan mereka, yakni Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama.
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Sandi Nugroho, menyampaikan apresiasinya terhadap partisipasi aktif berbagai organisasi keagamaan dalam peringatan HUT Bhayangkara tahun ini. Menurutnya, hal tersebut menandakan bahwa Polri tidak hanya dekat dengan masyarakat pada umumnya, tetapi juga menjalin hubungan harmonis dengan kalangan keagamaan.
“Ini bukti bahwa Polri tidak hanya dekat dengan masyarakat, tetapi juga dengan organisasi keagamaan di Indonesia,” ujar Irjen Pol. Sandi, Rabu (2/7/2025).
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh organisasi yang telah ikut serta dalam memeriahkan acara tersebut. Ia menambahkan, partisipasi berbagai elemen masyarakat, khususnya organisasi keagamaan, menjadikan Polri semakin kuat dan mampu memberikan pelayanan terbaik.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh organisasi keagamaan yang telah hadir di acara HUT Bhayangkara ke-79 ini. Kehadiran mereka menjadi semangat bagi kami untuk terus berbenah dan menjadi institusi yang dicintai rakyat,” tambahnya.
Irjen Pol. Sandi menekankan bahwa tema HUT Bhayangkara ke-79, yakni “Polri untuk Masyarakat”, bukan sekadar slogan, tetapi mencerminkan tekad Polri untuk selalu berada di tengah rakyat, memberikan pengayoman, perlindungan, serta pelayanan secara maksimal.
Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sambutannya turut mengapresiasi kinerja Polri yang terus menunjukkan keberpihakan kepada rakyat kecil dan kehadiran nyata di tengah masyarakat.
“Polisi Indonesia harus berada di tengah rakyat, merasakan penderitaan rakyat, mendengar jeritan hati rakyat,” ujar Presiden Prabowo di hadapan jajaran pimpinan Polri dan tamu undangan.
Presiden menegaskan bahwa cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia bukan semata-mata mencapai kedaulatan, melainkan juga membangun negara yang makmur dan berkeadilan sosial. Oleh karena itu, Polri dituntut menjadi garda terdepan dalam membela kepentingan rakyat, khususnya kelompok yang lemah dan termarginalkan.
“Bangsa dan negara kita membutuhkan kepolisian yang tangguh, unggul, bersih, dan dicintai rakyat—polisi yang berada di tengah rakyat, membela rakyat, melindungi rakyat, khususnya mereka yang paling lemah, paling tertindas, dan paling miskin,” tegas Presiden Prabowo.
Perayaan HUT Bhayangkara ke-79 ini tidak hanya menjadi ajang peringatan berdirinya Polri, tetapi juga mempertegas sinergi antara institusi kepolisian dan masyarakat sipil dalam menjaga keutuhan bangsa serta mewujudkan cita-cita Indonesia yang aman, adil, dan sejahtera. (red/rls)
