Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat, KH Mulyadi Djaya (FOTO :RISMAN BAUW)
FAKFAK, PinFunPapua.com — (999, mengusulkan agar peristiwa masuknya Islam ke Tanah Papua diangkat sebagai bagian integral dalam sistem pendidikan formal, dasar pembentukan regulasi daerah, dan landasan pengembangan wisata religi di Kabupaten Fakfak.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada peringatan Hari Masuknya Islam ke Tanah Papua yang berlangsung khidmat di Fakfak, Kamis (7/8/2025). Dalam kesempatan itu, KH Mulyadi menegaskan tiga poin utama yang dinilai strategis dalam memperkuat identitas sejarah dan spiritualitas Papua Barat.
Sejarah Masuknya Islam Harus Masuk Kurikulum
KH Mulyadi menekankan pentingnya memasukkan sejarah masuknya Islam ke Tanah Papua ke dalam kurikulum pendidikan. Menurutnya, pelajaran ini penting bukan hanya untuk umat Islam, melainkan juga bagi umat Kristen Protestan dan Katolik, agar seluruh generasi muda Papua memahami sejarah kehadiran agama-agama samawi di wilayah ini.
“Ini penting tidak hanya untuk umat Islam, tapi juga bagi umat Kristen Protestan maupun Katolik agar generasi mendatang memahami sejarah hadirnya agama-agama samawi di Papua. Kita ingin semua anak Papua tahu bagaimana nilai-nilai agama masuk dan berkembang di tanah ini,” ujar KH Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa pengenalan sejarah agama secara menyeluruh akan memperkuat nilai-nilai toleransi dan keberagaman yang telah lama tumbuh subur di Papua, khususnya di Fakfak.
Diusulkan Masuk ke Peraturan Daerah
Selain masuk ke dalam kurikulum, MUI Papua Barat juga mendorong agar peringatan sejarah masuknya Islam dijadikan dasar dalam penyusunan peraturan daerah (perda), baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Bahkan, menurut KH Mulyadi, dapat dipertimbangkan dalam bentuk Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) untuk Tanah Papua.
“Kita ingin nilai-nilai sejarah ini tidak hanya dikenang, tapi menjadi dasar hukum dan budaya yang memperkuat identitas Papua sebagai wilayah yang kaya toleransi dan spiritualitas,” tegasnya.
Ia menilai, langkah ini akan memperkuat fondasi hukum dalam menjaga harmoni antarumat beragama serta menjadikan Papua sebagai model kerukunan nasional.
Fakfak sebagai Destinasi Wisata Religi Dunia
Dalam gagasan ketiganya, KH Mulyadi menyampaikan visi besar untuk menjadikan Kabupaten Fakfak sebagai destinasi wisata religi dunia. Hal ini didasarkan pada nilai sejarah dan keberagaman yang dimiliki wilayah ini.
“Tidak ada negara di dunia yang mampu menyatukan agama-agama langit secara harmonis seperti di Fakfak. Roma khusus untuk Katolik, Arab Saudi untuk Islam, dan Jerman untuk Protestan. Tapi Fakfak adalah rumah bersama untuk semua. Ini berkah luar biasa,” tuturnya.
MUI Papua Barat percaya bahwa Fakfak memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat wisata religi yang mengedepankan nilai-nilai spiritual universal dan kerukunan umat.
Fakfak: Simbol Persatuan Agama-Agama Langit
KH Mulyadi menutup sambutannya dengan menyatakan bahwa Papua, khususnya Fakfak, adalah satu-satunya wilayah di dunia yang menjadi simbol persatuan agama-agama langit—Islam, Kristen Protestan, dan Katolik—yang hidup berdampingan dalam kedamaian dan persaudaraan.
“Malam ini kita tidak hanya menyaksikan peringatan sejarah, tapi juga merayakan persatuan spiritual di atas Tanah Papua. Ini adalah berkah yang harus kita syukuri dan jaga bersama,” pungkasnya.
Peringatan Hari Masuknya Islam ke Tanah Papua ini diharapkan menjadi momentum reflektif dan strategis bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat fondasi toleransi, pendidikan sejarah, serta pengembangan destinasi wisata religi yang berdaya saing global. (RISMAN BAUW).
