Manokwari, PinFunPapua.com – Sejumlah wartawan pos Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat menyampaikan kekecewaannya atas dugaan adanya pembatasan akses liputan terhadap kegiatan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan. Para jurnalis merasa tidak dihargai karena informasi kegiatan gubernur dinilai sengaja tidak disampaikan oleh oknum di lingkup Biro Administrasi Pimpinan Setda Papua Barat.
Ari Amstrong, wartawan televisi lokal Papua Barat, mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir para wartawan kesulitan memperoleh informasi maupun ruang liputan terkait aktivitas gubernur. “Kami merasa tidak dihargai oleh pimpinan Biro Administrasi Pimpinan. Kami seakan-akan dihalangi dan tidak diberikan informasi mengenai kegiatan Bapak Gubernur,” ujarnya dengan nada kecewa.
Amstrong menuturkan, pada Senin (15/9/2025) usai apel pagi di Kantor Gubernur Papua Barat, ia sempat meminta waktu untuk mengatur pertemuan silaturahmi antara wartawan dan Dominggus Mandacan. Saat itu, gubernur menyambut baik inisiatif tersebut, namun tidak dapat langsung bertemu karena ada agenda dengan DPR Papua Barat.
“Bapak gubernur bilang, kalau hari itu tidak bisa karena ada agenda, tetapi bisa diatur besok atau hari berikutnya. Beliau bahkan meminta saya jadi koordinator dan mencatat nama-nama wartawan yang akan bertemu,” jelas Amstrong.

Menindaklanjuti hal itu, Amstrong menyerahkan 12 nama wartawan melalui ajudan gubernur, Jesri, dengan maksud melaksanakan pertemuan pada Selasa (16/9/2025). Namun, saat para jurnalis tiba di Kantor Gubernur pukul 09.00 WIT, Kepala Biro Administrasi Pimpinan, Helen Frinda Dewi, justru mempertanyakan maksud kedatangan mereka dan menyatakan tidak ada agenda pertemuan dengan gubernur.
Menurut Amstrong, setelah dijelaskan bahwa pertemuan hanya untuk silaturahmi, Helen menyarankan wartawan menunggu dan memerintahkan staf untuk mengonfirmasi ke ruangan gubernur. “Kami menunggu sejak pagi hingga pukul 15.00 WIT, tapi akhirnya staf gubernur menyuruh kami pulang dengan alasan tidak ada agenda pertemuan,” ungkapnya.
Kekecewaan semakin memuncak ketika wartawan mendengar penjelasan dari staf gubernur yang menyebutkan bahwa maksud Dominggus hanya meminta daftar nama wartawan, bukan pertemuan langsung. Hal itu dinilai sebagai bentuk kesalahpahaman yang tidak diklarifikasi secara terbuka.
Tidak puas, para wartawan kemudian menunggu di area pintu keluar dan parkiran kendaraan dinas gubernur. Namun, mobil gubernur meninggalkan kantor tanpa mempertemukan Dominggus dengan para jurnalis. “Saya sudah lama jadi wartawan dan tahu betul jalur keluar gubernur. Kami sangat kecewa karena terkesan diarahkan untuk menghindar,” tegas Amstrong.
Ia berharap Gubernur Papua Barat dapat mengevaluasi lingkungan terdekatnya yang dinilai menghambat hubungan baik antara pemerintah dan pers. “Saya mengenal Bapak sejak menjabat sebagai Bupati Manokwari dan tahu beliau orang baik. Tetapi, orang-orang di sekitar bapak justru membuat citra pemerintah menjadi buruk dengan melarang wartawan meliput,” tambahnya.
Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan di kalangan jurnalis yang bertugas di lingkup Pemprov Papua Barat. Mereka menilai peran pers semestinya mendapat dukungan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi publik kepada masyarakat. (JANU)
