SENTUL, PinFunPapua.com — Seventythree Foundation menggelar kegiatan Belajar Lintas Organisasi selama empat hari di Sentul, Kabupaten Bogor, dengan melibatkan sejumlah organisasi komunitas dari berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP), Cinta Tanah Mahardika (CTM) dari Sulawesi, Paia dari Papua Selatan, Fyarkin dari Papua, Sekolah Perempuan Pesisir dari Halmahera, serta sejumlah organisasi komunitas lainnya.
Berdasarkan pantauan wartawan PinFunPapua.com, kegiatan ini diawali dengan prosesi adat dari Papua, Sulawesi, dan Halmahera. Seluruh rangkaian pembukaan kemudian ditutup dengan prosesi adat dari Papua Selatan sebagai simbol persatuan dan jembatan budaya antardaerah.

Program Director Seventythree Foundation, Adrian Wells, menjelaskan bahwa Seventythree Foundation merupakan organisasi nirlaba berbasis di Inggris yang berfokus pada penguatan kapasitas organisasi masyarakat sipil di Indonesia. “Kami bukan lembaga donatur, dan kami juga bukan pelaksana program di Indonesia. kontribusi kami adalah memperkuat organisasi mitra kami yang bekerja di tingkat komunitas,” jelasnya.
Menurut Adrian, pengalaman panjang Seventythree Foundation dalam mendampingi berbagai program di Indonesia menjadi landasan terselenggaranya kegiatan pembelajaran lintas organisasi ini. Sebelumnya, 73 pernah terlibat dalam kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua, khususnya Bappeda Papua, dalam isu pembangunan berkelanjutan, serta program serupa di Sulawesi.

Adrian menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun ruang belajar bersama bagi organisasi masyarakat akar rumput, tempat mereka saling bertukar metodologi, pengalaman, dan praktik terbaik dalam pengembangan organisasi, usaha komunitas, hingga gerakan advokasi. “Ini adalah pertemuan awal yang mempertemukan lembaga-lembaga inovatif seperti YP3SP, CTM dari Sulawesi Selatan, serta organisasi lain dari Halmahera dan Papua,” katanya.
Ia menambahkan bahwa penguatan kapasitas tidak hanya diperlukan di tingkat kampung, tetapi juga dalam membangun aliansi advokasi yang mampu berinteraksi lebih efektif dengan pemerintah terkait kebijakan yang memengaruhi proses pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan ini, organisasi komunitas belajar bagaimana membangun strategi advokasi dari tingkat kampung, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.

Lebih lanjut Adrian menyatakan bahwa harapan utama dari kegiatan ini adalah lahirnya organisasi komunitas yang mandiri, tidak bergantung pada bantuan luar, serta mampu menghidupkan komunitasnya dengan sumber daya yang dimiliki. “Pertemuan ini menunjukkan besarnya potensi yang ada di tingkat kampung. Masyarakat sebenarnya bisa memimpin pembangunan mereka sendiri tanpa harus menunggu bantuan dari luar,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya keberadaan organisasi masyarakat sipil seperti YP3SP yang memiliki kapasitas untuk terus mendampingi dan memperkuat organisasi komunitas di berbagai daerah. Dengan adanya ruang belajar lintas organisasi ini, Seventythree Foundation berharap terciptanya jejaring kerja yang berkelanjutan dan berdampak bagi pemberdayaan masyarakat akar rumput di seluruh Indonesia. (red)
