Ketua Tim Peneliti, Petrus Oktavianus H., M.P., Bersama Mahasiswa Polinef, Melakukan Penelitian Kajian Agribisnis Perbanyak Vegetatif Buatan dan Alami.
FAKFAK,PinFunPapua.com – Kabupaten Fakfak yang dikenal sebagai Kota Pala kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pusat pengembangan komoditas unggulan nasional. Hasil penelitian tim dosen Politeknik Negeri Fakfak (Polinef) menunjukkan bahwa metode perbanyakan vegetatif buatan mampu meningkatkan kualitas bibit pala sekaligus memberikan dampak positif terhadap produktivitas dan nilai ekonomi petani.
Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Peneliti, Petrus Oktavianus H., M.P., kepada PinFunPapua.com di Fakfak, Papua Barat, Sabtu (24/1/2026).
Penelitian berjudul Kajian Agribisnis Perbanyakan Vegetatif Buatan dan Alami pada Optimalisasi Nilai Ekonomi Tanaman Pala ini bertujuan membandingkan efektivitas pembibitan pala secara generatif (alami) dan vegetatif buatan, serta menganalisis efisiensi ekonomi usaha tani pala di Kabupaten Fakfak.
Petrus menjelaskan, selama ini sebagian besar petani pala di Fakfak masih mengandalkan pembibitan alami dari biji yang tumbuh di kebun. Meski mudah dilakukan, metode tersebut menghasilkan pertumbuhan bibit yang tidak seragam dan membutuhkan waktu relatif lama untuk berbuah.

“Bibit hasil perbanyakan vegetatif buatan, seperti cangkok dan sambung pucuk, menunjukkan pertumbuhan yang lebih stabil dan seragam, serta berpotensi berbuah lebih cepat. Tanaman juga lebih mewarisi sifat unggul dari induknya, baik dari sisi produktivitas maupun kualitas hasil,” jelasnya.
Selain meningkatkan hasil panen, penerapan teknik vegetatif buatan juga membuka peluang usaha baru di bidang pembibitan pala. Petani dapat mengembangkan unit usaha bibit unggul dengan nilai jual tinggi yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Tim peneliti berharap hasil kajian ini dapat menjadi rujukan bagi petani, penyuluh pertanian, serta pemerintah daerah dalam merumuskan strategi pengembangan pala Fakfak yang lebih modern, berdaya saing, dan berkelanjutan.
“Pala bukan hanya identitas Fakfak, tetapi juga aset ekonomi daerah. Dengan inovasi teknologi budidaya, kesejahteraan petani dapat meningkat sekaligus memperkuat posisi pala Fakfak di pasar nasional maupun internasional,” tutup Petrus.
