FAKFAK,PinFunPapua.com – Direktur Papua Football Academy, Wolfgang Pikal, menegaskan bahwa Kabupaten Fakfak memiliki potensi besar dalam melahirkan talenta muda sepak bola, baik dari wilayah perkotaan maupun kampung-kampung.
Hal tersebut disampaikannya usai memimpin sesi pelatihan bagi anak-anak usia 13 tahun dalam kegiatan “Papua Football Academy Cari Bakat 2026” yang berlangsung di Lapangan 16 November, Fakfak, Rabu (6/5/2026).
“Kami yakin bakat anak-anak di Fakfak itu ada, baik di kota maupun di kampung. Tapi untuk pemanggilan ke final camp, semua masih dalam proses seleksi terakhir. Nama-nama sudah kami kantongi, nanti akan kami tentukan secara objektif,” ujar Pikal.
Ia menjelaskan, saat ini tim Papua Football Academy tengah melakukan penjaringan bakat di 18 kabupaten/Kota di Tanah Papua. Program ini bertujuan menemukan pemain muda potensial untuk dibina secara profesional.
Meski demikian, Pikal menyoroti masih minimnya dukungan terhadap pengembangan sepak bola usia dini di Fakfak. Berdasarkan informasi dari pelatih lokal dan masyarakat, banyak Sekolah Sepak Bola (SSB) yang berjalan dengan keterbatasan.
“Ada cerita dari ibu-ibu dan pelatih lokal, mereka kurang mendapat dukungan. Banyak pelatih seperti berjuang sendiri. Kami harap pemerintah bisa membantu, misalnya dari sisi transportasi agar anak-anak dari distrik bisa ikut seleksi, entah itu lewat kapal atau kendaraan,” katanya
Menurutnya, pengembangan sepak bola tidak hanya soal olahraga, tetapi juga investasi jangka panjang bagi generasi muda Papua agar tumbuh menjadi pribadi yang produktif dan berdaya saing.

Dalam proses seleksi, Pikal menegaskan tidak ada target atau kuota khusus dari setiap daerah. Penilaian dilakukan secara objektif berdasarkan kemampuan, potensi, serta sejumlah parameter pendukung, termasuk aspek fisik dan kecerdasan.
“Kami ingin jujur dalam seleksi. Tidak ada intervensi. Memang ada subjektivitas, tapi kami juga punya parameter. Misalnya postur tubuh juga jadi pertimbangan, karena kebutuhan sepak bola modern,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah peserta dari Fakfak masih tergolong rendah dibanding daerah lain. Jika di wilayah seperti Timika jumlah peserta bisa mencapai lebih dari 300 orang, di Fakfak hanya sekitar 59 peserta yang mengikuti seleksi.
“Ini bukan soal kurangnya minat, tapi lebih ke faktor lingkungan dan dukungan. Padahal potensi pasti ada di mana-mana,” tambahnya.
Ke depan, Papua Football Academy akan menggelar final camp pada awal Juli 2026 di Timika, dengan mengundang sekitar 50 pemain terbaik dari seluruh Papua untuk mengikuti seleksi tahap lanjutan. Dalam tahap tersebut, peserta akan menjalani pertandingan, tes kesehatan, pemeriksaan fisik, serta tes psikologi.
Pikal berharap, dari proses ini akan ada perwakilan pemain dari Fakfak yang lolos ke tahap akhir.
“Kami berharap ada anak dari Fakfak yang bisa masuk final camp. Potensi itu ada, tinggal bagaimana kita membangun ekosistem sepak bola yang mendukung,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mencari dan membina talenta muda Papua agar mampu bersaing di level nasional maupun internasional. (Risman Bauw).
