MANOKWARI, PinFunPapua.com – Proses penyelesaian pertikaian antara siswa kelas X dan XI di SMA Taruna Kasuari Nusantara akhirnya diselesaikan secara damai melalui prosesi adat yang digelar oleh paguyuban, orang tua siswa di Rungkan,
Prosesi adat tersebut berlangsung penuh kekeluargaan dan dihadiri oleh seluruh orang tua siswa kelas X dan XI, pihak sekolah, Dinas Pendidikan Papua Barat, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manokwari, PPA Kabupaten Manokwari, para guru, serta seluruh siswa dari kedua tingkatan kelas.
Sebelum prosesi adat dilaksanakan, pihak sekolah terlebih dahulu membacakan surat pernyataan perdamaian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Surat tersebut menjadi dasar penyelesaian masalah secara kekeluargaan dan menegaskan komitmen bersama untuk mengakhiri pertikaian yang sempat terjadi di lingkungan sekolah.
Setelah surat pernyataan dibacakan, dua perwakilan siswa dari kelas XI dan kelas X bersama para saksi menandatangani dokumen perdamaian tersebut. Dalam kesepakatan itu, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara damai dengan saling memaafkan serta menjaga hubungan persaudaraan di lingkungan sekolah.
Selain itu, pihak pertama juga menyatakan kesediaannya membantu biaya pengobatan bagi pihak kedua sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap siswa yang terdampak langsung dalam insiden tersebut.
Ketua Paguyuban Kelas XI, Yan Ayomi, mengatakan bahwa orang tua siswa kelas XI secara sukarela mengumpulkan dana sebesar Rp25.250.000 untuk membantu biaya pengobatan siswa kelas X.
“Kami orang tua siswa kelas XI dengan sukarela dan berbesar hati mengumpulkan dana sebesar Rp25.250.000 untuk membantu anak-anak kelas X yang menjalani pengobatan. Kami berharap bantuan ini tidak dilihat dari nilainya, tetapi sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang kepada anak-anak kita bersama,” ujarnya.
Dana tersebut kemudian diserahkan langsung kepada Ketua Paguyuban Kelas X untuk selanjutnya disalurkan kepada siswa yang membutuhkan pengobatan akibat insiden tersebut.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Kelas X, Markus Waran, menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah, orang tua siswa, dan seluruh pihak yang telah memfasilitasi proses rekonsiliasi tersebut.
Ia mengatakan bahwa pertemuan damai tersebut menjadi momentum penting untuk memulihkan hubungan antarsiswa demi masa depan mereka.
“Mewakili anak-anak kelas X dan seluruh orang tua, kami menyampaikan terima kasih atas rekonsiliasi kebersamaan yang difasilitasi sekolah dan semua pihak. Pertemuan ini menjadi langkah baik demi masa depan anak-anak kita,” katanya.
Dalam prosesi adat tersebut juga dilakukan penyerahan adat piring sebagai simbol perdamaian dan pemulihan hubungan persaudaraan antara kedua belah pihak.
Markus menjelaskan bahwa dalam tradisi adat Papua, adat piring biasanya digunakan dalam pembayaran mas kawin. Namun, dalam konteks perdamaian ini, adat tersebut dimaknai sebagai simbol pemulihan hubungan kekeluargaan.
“Adat piring ini biasanya digunakan untuk pembayaran mas kawin, tetapi hari ini bukan untuk pernikahan. Ini menjadi tanda bahwa hubungan antara kelas X dan kelas XI dipulihkan kembali sebagai satu keluarga dan satu darah untuk terus berjuang demi masa depan anak-anak kita,” ungkapnya.
Usai prosesi adat berlangsung, seluruh siswa kelas X dan XI saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan sebagai simbol berakhirnya pertikaian. Suasana haru dan penuh kebersamaan terlihat ketika para siswa, orang tua, dan guru bersama-sama menuju lapangan sekolah untuk melakukan foto bersama sebagai tanda perdamaian dan persatuan. (red)
