MANOKWARI,PinFunPapua.com- Pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi sorotan publik di tengah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus diperluas ke berbagai daerah di Indonesia.
Sejumlah kalangan menilai momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk menghadirkan kepemimpinan baru yang tidak hanya memahami persoalan gizi, tetapi juga mampu menjaga stabilitas keuangan program yang menyerap anggaran besar negara.
Ketua Prima Dewan Masjid Indonesia (DMI) Papua Barat, Fajrin Atta Maruapey, mengatakan keberhasilan Program MBG dalam jangka panjang sangat bergantung pada kualitas tata kelola dan pengawasan anggaran. Menurut dia, program yang menyasar puluhan juta anak sekolah, ibu hamil, dan balita itu membutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas manajerial kuat serta integritas tinggi.
“Program MBG merupakan investasi besar negara untuk masa depan generasi Indonesia. Karena itu, pengelolaan keuangannya harus dilakukan secara hati-hati, transparan, dan akuntabel agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” kata Fajrin dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Ia menegaskan bahwa tantangan utama BGN saat ini bukan hanya memastikan kualitas makanan yang diterima masyarakat, tetapi juga menjaga agar setiap anggaran yang dialokasikan benar-benar sampai kepada penerima manfaat tanpa kebocoran.
Menurut Fajrin, sosok yang akan memimpin BGN ke depan harus mampu menjawab tantangan besar program nasional tersebut.
“Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar ahli gizi. Pemimpin baru juga harus memahami manajemen keuangan negara, audit, pengawasan program, serta memiliki kemampuan membangun sistem yang transparan dan efisien,” ujarnya.
Fajrin menilai Presiden tentu menginginkan Program MBG berjalan bersih, tepat sasaran, dan berkelanjutan hingga tahun 2029. Karena itu, figur yang ditunjuk harus memiliki kombinasi kemampuan yang lengkap.
“Setidaknya ada tiga hal penting yang harus dimiliki, yakni kompeten dalam bidang gizi dan kesehatan masyarakat, kredibel dalam pengelolaan keuangan, serta dekat dengan kebutuhan masyarakat. Tiga aspek itu menjadi fondasi penting untuk memastikan program berjalan optimal,” katanya.
Di tengah munculnya berbagai aspirasi publik terkait calon Kepala BGN yang baru, nama Nasrinya disebut-sebut sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki pengalaman dalam bidang kesehatan masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan program berskala besar.
Fajrin mengatakan pemimpin baru BGN nantinya akan menghadapi tiga pekerjaan besar yang harus segera diselesaikan. Pertama, menjaga stabilitas dan efisiensi anggaran MBG agar biaya operasional tetap terkendali dan pembayaran kepada mitra pelaksana berjalan tepat waktu.
Kedua, memperkuat transparansi dan akuntabilitas melalui sistem pelaporan yang dapat diawasi oleh publik, lembaga pemeriksa, serta pemangku kepentingan lainnya.
Ketiga, memastikan anggaran program turut menggerakkan ekonomi daerah melalui keterlibatan petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM lokal sebagai bagian dari rantai pasok bahan pangan.
“Jika dikelola dengan baik, MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Anggaran negara yang berputar di daerah akan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Fajrin.
Ia berharap proses seleksi Kepala BGN dilakukan secara profesional dan berbasis merit sehingga menghasilkan pemimpin yang mampu menjaga kepercayaan publik terhadap program strategis nasional tersebut.
“Harapan masyarakat adalah hadirnya pemimpin yang mampu mengamankan uang negara sekaligus memastikan makanan bergizi dapat dinikmati anak-anak Indonesia hingga ke wilayah terluar, termasuk Papua. Ketika anak-anak sehat dan anggaran negara terjaga, maka tujuan besar program ini dapat tercapai,” tuturnya.
Fajrin optimistis dengan kepemimpinan yang tepat, Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi salah satu warisan pembangunan nasional yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. (Dhy)
