MANOKWARI,PinFunPapua.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, semangat menjaga warisan perjuangan para ulama pendiri kembali diteguhkan. Tiga Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor dari Maluku, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat melaksanakan ziarah ke makam pendiri GP Ansor, KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), Rabu (8/7/2026).
Ziarah tersebut berlangsung sehari sebelum kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan jejak perjuangan Mbah Wahab resmi ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar NU ke-35. Momentum ini dinilai bukan sekadar rangkaian kegiatan seremonial, tetapi menjadi penegasan bahwa perjalanan besar Nahdlatul Ulama dibangun di atas perjuangan, pengorbanan, dan keteladanan para ulama pendirinya.
Sebagai salah satu tokoh utama Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah dikenal bukan hanya sebagai pendiri GP Ansor, tetapi juga ulama, pendidik, pejuang kemerdekaan, tokoh organisasi, serta Pahlawan Nasional yang meletakkan fondasi kuat bagi lahir dan berkembangnya NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Selain menjadi pelopor kaderisasi, Mbah Wahab juga dikenang sebagai sosok visioner yang mendorong lahirnya kemandirian ekonomi umat melalui semangat kewirausahaan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan organisasi sebagai pilar kemajuan bangsa.
Penetapan lokasi Muktamar NU ke-35 di kawasan yang sarat nilai historis perjuangan Mbah Wahab dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para muassis Nahdlatul Ulama. Lebih dari sekadar keputusan administratif, langkah tersebut diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat pengabdian, persatuan, dan komitmen kader dalam meneruskan cita-cita perjuangan para ulama.
Ketua PW GP Ansor Papua Barat, Badarudin Heremba, menegaskan bahwa Muktamar NU ke-35 harus menjadi momentum strategis untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkokoh persatuan, serta meneguhkan komitmen kebangsaan yang telah diwariskan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama.
“Kami memberikan dukungan penuh terhadap lokasi Muktamar NU ke-35 yang telah ditetapkan. Semoga muktamar ini berjalan lancar, menghasilkan keputusan-keputusan terbaik bagi kemajuan Nahdlatul Ulama, serta semakin memperkuat ukhuwah, persatuan, dan pengabdian kader NU di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Ketua PW GP Ansor Maluku, H. Ridwan Nurdin. Menurutnya, lokasi Muktamar NU ke-35 memiliki makna historis yang sangat kuat sehingga menjadi pilihan yang tepat.

“Kami mendukung penuh lokasi Muktamar NU ke-35 yang telah ditetapkan. Tempat ini menyimpan jejak perjuangan Mbah Wahab Chasbullah yang begitu besar bagi Nahdlatul Ulama dan GP Ansor. Muktamar di tempat yang sarat nilai sejarah akan semakin menguatkan semangat kader untuk menghormati para pendiri sekaligus melanjutkan perjuangan mereka dalam menjaga agama, bangsa, dan negara,” katanya.
Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Sulawesi Selatan, Muh. Ridwan Yusuf, menilai keputusan tersebut bukan hanya berkaitan dengan lokasi penyelenggaraan muktamar, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menghidupkan kembali semangat perjuangan para pendiri.
“Ini bukan sekadar memilih tempat pelaksanaan muktamar, tetapi juga mengajak seluruh warga NU untuk kembali mengenang, mempelajari, dan meneladani perjuangan para pendiri, khususnya Mbah Wahab Chasbullah,” ungkapnya.
Ketiga Ketua PW GP Ansor itu sepakat bahwa ziarah ke makam Mbah Wahab merupakan bentuk penghormatan atas jasa besar para ulama yang telah meletakkan dasar perjuangan Nahdlatul Ulama. Mereka berharap Muktamar NU ke-35 tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan strategis bagi organisasi, tetapi juga mampu melahirkan generasi kader yang berkarakter, berintegritas, serta setia menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mereka juga berharap keteladanan KH Abdul Wahab Chasbullah terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai ulama besar, tokoh pendidikan, pelopor kaderisasi, pejuang bangsa, sekaligus inspirator dalam membangun kemandirian ekonomi umat.
“Bangsa yang besar bukan hanya mampu membangun masa depan, tetapi juga menghormati sejarah dan jasa para pendirinya. Dari warisan perjuangan ulama lahir semangat persatuan, pengabdian, dan keikhlasan untuk terus mengabdi kepada umat, bangsa, dan negara.”
(Jurnalis : Risman Bauw).
