Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Barat, Drs. Ali Baham Temongmere, MTP
MANOKWARI, PinFunPapua.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Barat, Drs. Ali Baham Temongmere, meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, khususnya bidang penelitian dan pengembangan (Litbang), melakukan kajian mendalam terhadap kondisi lingkungan yang terjadi di Papua Barat, terutama berkaitan dengan kebakaran hutan dan munculnya kabut asap.
Permintaan tersebut disampaikan Ali Baham saat memberikan arahan kepada jajaran Pemerintah Provinsi Papua Barat. Ia menilai kondisi alam yang terjadi saat ini perlu dianalisis secara serius untuk mengetahui faktor yang menjadi penyebab munculnya kondisi cuaca yang tidak biasa, termasuk kabut asap.
Menurut Ali Baham, perkembangan kondisi alam harus menjadi perhatian pemerintah dan tidak cukup hanya dilihat sebagai fenomena yang terjadi secara tiba-tiba. Para teknokrat di lingkungan pemerintah daerah dinilai memiliki kemampuan untuk melakukan analisis guna mengetahui akar persoalan yang terjadi.
“Dengan melihat kondisi alam saat ini, tentunya teknokrat sudah bisa menganalisis apa sesungguhnya persoalan yang menyebabkan cuaca seperti ini. Apakah ini tiba-tiba ada ataukah penyebabnya akibat dari kita sendiri,” ujar Ali Baham.
Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh hanya bersikap pasif dengan melihat perubahan kondisi alam tanpa melakukan langkah analisis. Menurutnya, diperlukan kajian yang dapat memberikan gambaran secara objektif mengenai penyebab munculnya kondisi lingkungan tersebut.
Ali Baham meminta perangkat daerah yang memiliki tugas dan fungsi terkait lingkungan untuk segera melakukan kajian. Salah satu perangkat yang mendapat perhatian adalah Litbang agar dapat memberikan telaah mengenai aspek lingkungan, khususnya hubungan antara kebakaran hutan dan munculnya kabut asap.
“Saya minta kepada SKPD yang terkait dengan ini, terutama Litbang, kita harus memberikan telaah tentang aspek lingkungan yang terkait dengan kebakaran hutan dan sekaligus kaitannya dengan kabut asap,” katanya.
Ia mengatakan, kondisi cuaca seperti hujan dan panas merupakan fenomena yang masih dapat terjadi dalam kondisi tertentu. Namun, munculnya kabut asap dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih karena menurutnya kondisi tersebut tidak biasa.
“Kalau biasa hujan, panas, biasa. Tetapi kalau kabut, tidak biasa. Maka perlu juga dikaji dengan mendalam dan kritis,” tegasnya.
Kajian tersebut, lanjut Ali Baham, diperlukan agar pemerintah dapat mengetahui akar persoalan secara lebih jelas. Dengan adanya hasil kajian yang komprehensif, pemerintah akan memiliki dasar dalam menentukan langkah selanjutnya untuk menangani kondisi lingkungan yang terjadi.
Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis kajian dan data dalam merespons berbagai perubahan lingkungan. Pemerintah tidak boleh langsung mengambil kesimpulan mengenai penyebab kabut asap sebelum dilakukan penelitian dan analisis secara mendalam.
Karena itu, Litbang bersama perangkat daerah terkait diharapkan dapat melihat persoalan tersebut dari berbagai aspek, mulai dari kondisi lingkungan, kemungkinan keterkaitan dengan kebakaran hutan, hingga faktor lain yang berpotensi memengaruhi munculnya kabut asap.
Menurut Ali Baham, hasil kajian tersebut nantinya dapat menjadi bahan bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan dan langkah penanganan yang tepat. Terlebih apabila hasil kajian menunjukkan adanya faktor aktivitas manusia yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan atau munculnya kabut asap.
“Supaya nanti ada langkah-langkah selanjutnya kalau itu adalah ulah manusia,” ujarnya.
Ia menilai, apabila faktor manusia terbukti memiliki keterkaitan dengan kondisi tersebut, pemerintah perlu menyiapkan langkah tindak lanjut berdasarkan hasil kajian. Langkah tersebut harus diarahkan untuk mencegah persoalan serupa kembali terjadi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Ali Baham juga mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat ditangani hanya dengan melihat gejala yang muncul di permukaan. Diperlukan upaya untuk memahami akar persoalan sehingga kebijakan yang diambil pemerintah benar-benar mampu menjawab permasalahan.
Dengan adanya telaah dari perangkat daerah terkait, Pemerintah Provinsi Papua Barat diharapkan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi lingkungan saat ini. Hasil kajian tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi dan dasar dalam menentukan langkah penanganan apabila ditemukan faktor yang berkontribusi terhadap kebakaran hutan dan kabut asap.
Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui perangkat daerah terkait selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan pemantauan terhadap kondisi lingkungan serta memperkuat koordinasi dalam menghadapi berbagai potensi persoalan lingkungan.
Ali Baham menegaskan bahwa perubahan kondisi alam harus disikapi secara serius, kritis, dan berdasarkan hasil analisis. Pemerintah tidak boleh hanya melihat fenomena tersebut sebagai sesuatu yang datang secara tiba-tiba, tetapi perlu memastikan penyebabnya agar langkah penanganan yang dilakukan dapat tepat sasaran dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan di Papua Barat. (red)
