Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama, mengatakan, berdasarkan pemantauan citra satelit, jumlah titik panas (hotspot) di Papua Selatan terdeteksi mendekati 1.000 titik. Sementara itu, di Papua Barat tercatat 201 titik panas pada hari sebelumnya. ( FOTO : Edhy )
MANOKWARI, PinFunpapua.com – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Papua Barat mulai berdampak pada aktivitas penerbangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut asap tersebut diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di luar Manokwari, terutama dari wilayah Papua Selatan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama, mengatakan, berdasarkan pemantauan citra satelit, jumlah titik panas (hotspot) di Papua Selatan terdeteksi mendekati 1.000 titik. Sementara itu, di Papua Barat tercatat 201 titik panas pada hari sebelumnya.
“Untuk awal November, Papua Barat diperkirakan mulai memasuki musim hujan. Namun, kita juga melihat kondisi global karena sudah memasuki musim El Niño. Kemungkinan curah hujannya tidak seperti hujan pada kondisi normal,” kata Cipta.
Ia menjelaskan, arah angin turut memengaruhi penyebaran kabut asap dari wilayah sumber kebakaran menuju sejumlah daerah di Tanah Papua dan Maluku.
Saat ini, angin dominan bertiup dari timur dan cenderung bergerak ke utara. Kondisi tersebut menyebabkan asap menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Papua Tengah, Papua Barat, dan Maluku.
Menurut Cipta, wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Timika, Fakfak, Kaimana, dan Sorong.
“Untuk hari ini, angin dominan dari timur sehingga membawa asap ke arah Sorong,” ujarnya.
Dampak kabut asap juga mulai dirasakan di sektor penerbangan. Cipta mengatakan, berdasarkan laporan cuaca di Sorong, jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 2.000 meter.
Kondisi tersebut berdampak terhadap operasional penerbangan. Ia menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak bandara, pesawat Batik Air tidak dapat mendarat di Sorong dan dialihkan ke Manado.
“Dari laporan cuaca di Sorong, jarak pandang sekitar 2.000 meter. Tadi pihak bandara menyampaikan bahwa pesawat Batik Air tidak bisa mendarat dan dialihkan ke Manado,” katanya.
Cipta menegaskan, hujan yang turun di Manokwari belum tentu mampu menghilangkan kabut asap secara menyeluruh. Pasalnya, sumber asap bukan berasal dari wilayah Manokwari, melainkan dari daerah lain yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Ia menyebut Fakfak dan Merauke sebagai contoh wilayah yang menjadi sumber asap. Karena itu, meskipun hujan turun di Manokwari, kabut asap berpotensi kembali menyelimuti wilayah tersebut apabila asap dari daerah lain masih terbawa angin.
“Walaupun hujan, kemarin pagi kabut asap kembali pekat. Masalahnya bukan di Manokwari, tetapi sumber asapnya berasal dari luar daerah,” jelasnya.
Menurut dia, operasi modifikasi cuaca dapat membantu mengurangi dampak kabut asap. Namun, upaya tersebut tidak serta-merta menyelesaikan persoalan apabila sumber kebakaran masih terus menghasilkan asap.
Cipta mengatakan, operasi modifikasi cuaca direncanakan dipusatkan di wilayah Kaimana dan Teluk Bintuni. Upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi titik panas dan dampak kebakaran, terutama di wilayah yang menjadi perhatian.
“Sepertinya lebih cenderung ke Fakfak dan Kaimana untuk mengurangi titik api tersebut,” ujarnya.
Terkait kondisi angin di Manokwari, Cipta mengatakan kecepatannya dalam beberapa hari terakhir relatif tenang. Namun, pada siang hari, kecepatan angin cenderung meningkat.
“Untuk beberapa hari kemarin, angin di Manokwari relatif tenang. Pada siang hari, kecepatannya cenderung meningkat hingga 4–10 knot,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara, terutama ketika kabut asap kembali menebal dan mengurangi jarak pandang. (Dhy)
