MANOKWARI,PinFunPapua.com – Anggota Komisi XII DPR RI, Cheroline Chrisye Makalew, S.P., menegaskan bahwa persoalan sampah tidak boleh dipandang hanya sebagai masalah kebersihan, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan hidup, serta kualitas hidup generasi mendatang.
Hal tersebut disampaikan Cheroline dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Sosialisasi Penanganan Sampah, Kedaruratan Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), serta Pengelolaan Limbah B3 di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (19/10/2026).
Menurut Cheroline, meningkatnya jumlah penduduk, aktivitas ekonomi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi sejumlah faktor yang turut mendorong bertambahnya volume sampah setiap hari. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang terencana agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Ia mengatakan, sampah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari pencemaran lingkungan, penyumbatan saluran air, hingga memicu banjir dan mengganggu kesehatan maupun aktivitas masyarakat.
“Kita semua menyadari bahwa pertumbuhan penduduk, aktivitas ekonomi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat turut meningkatkan produksi sampah yang dihasilkan setiap hari,” ujar Cheroline.
Ia menegaskan, apabila persoalan tersebut tidak ditangani secara tepat, dampaknya bukan hanya dirasakan saat ini, tetapi juga dapat membebani generasi mendatang.
“Apabila tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, penyumbatan saluran air, memicu banjir, serta mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat,” tegasnya.
Penanganan Sampah Membutuhkan Keterlibatan Semua Pihak
Cheroline menjelaskan, upaya mengatasi persoalan sampah tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menurut dia, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, hingga komunitas keagamaan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Perubahan harus dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah berdasarkan jenisnya, serta mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menghasilkan sampah berlebihan.
Kesadaran tersebut perlu dibangun secara konsisten, baik di lingkungan rumah tangga, tempat kerja, sekolah, kawasan usaha, maupun tempat-tempat umum.
Ia menilai, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting karena keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, tetapi juga oleh perilaku dan kepedulian warga dalam menjaga lingkungan.
Dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, penanganan sampah diharapkan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara terus-menerus.
Sosialisasi Diharapkan Mendorong Perubahan Perilaku
Cheroline mengatakan, kegiatan sosialisasi bersama Kementerian Lingkungan Hidup memiliki arti penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penanganan sampah, termasuk pengelolaan bahan berbahaya dan beracun serta limbah B3.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan memperoleh pengetahuan yang lebih baik tentang pentingnya pengelolaan sampah secara tepat, sekaligus memahami risiko yang dapat ditimbulkan apabila limbah berbahaya tidak ditangani sesuai ketentuan.
Menurutnya, edukasi lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya memahami persoalan sampah secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan, sosialisasi tidak boleh berhenti sebatas penyampaian informasi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut mendorong perubahan perilaku, sehingga masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan di sekitarnya.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan penanganan sampah dapat dimulai dari sumbernya, terutama rumah tangga dan berbagai aktivitas ekonomi yang menghasilkan sampah setiap hari.
Sampah Memiliki Potensi Nilai Ekonomi
Selain menyoroti dampak negatif sampah, Cheroline juga mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sampah. Menurutnya, sampah tidak selamanya menjadi barang yang tidak berguna, karena melalui pengetahuan, kreativitas, dan pengelolaan yang tepat, sebagian jenis sampah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Melalui sosialisasi ini, kita ingin masyarakat mengetahui bahwa sampah tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang tidak berguna. Dengan pengetahuan, kreativitas, dan pengelolaan yang baik, sampah bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi,” katanya.
Ia menilai, pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna dapat menjadi salah satu peluang untuk mendorong kegiatan ekonomi masyarakat, sekaligus mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
Pemilahan sampah organik dan anorganik, pemanfaatan kembali barang yang masih layak digunakan, serta pengolahan bahan yang dapat didaur ulang merupakan langkah yang dapat dikembangkan sesuai kondisi dan kemampuan masyarakat setempat.
Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan edukasi, fasilitas, serta partisipasi berbagai pihak agar pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kegiatan Bimtek dan sosialisasi ini, Cheroline berharap kesadaran masyarakat Kabupaten Manokwari terhadap pengelolaan sampah semakin meningkat. Ia juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu lembaga atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
(Jurnalis Dhy).
