Wakil Gubernur Provinsi Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, Menjelaskan Bahwa Proses Pengakuan terhadap Sejarah Masuknya Islam ke Papua Merupakan Hasil Kerja Panjang dan Kolaboratif Sejak Tiga Dekade Lalu. (FOTO : RISMAN BAUW )
FAKFAK, PinFunPapua.com — Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, menjadi pusat perhatian nasional pada Jumat (8/8/2025) saat menjadi tuan rumah peringatan 665 tahun masuknya Islam ke Tanah Papua. Kegiatan ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah tonggak sejarah yang mengukuhkan identitas keagamaan dan semangat toleransi yang telah lama mengakar di Bumi Cenderawasih.
Untuk pertama kalinya, peristiwa besar ini diperingati secara resmi, menyusul hasil kajian ilmiah dan seminar nasional yang menyepakati bahwa Islam pertama kali masuk ke Papua pada 8 Agustus 1360 Masehi, melalui Kampung Gar di Fakfak, dibawa oleh seorang dai asal Aceh bernama Syekh Abdul Qafah.
Perjalanan Panjang Penetapan Sejarah
Wakil Gubernur Provinsi Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, dalam sambutannya menjelaskan bahwa proses pengakuan terhadap sejarah masuknya Islam ke Papua merupakan hasil kerja panjang dan kolaboratif sejak tiga dekade lalu.
“Peringatan ini adalah hasil dari proses panjang yang telah berlangsung sejak tahun 1994. Diskusi awal saat itu dipimpin oleh Sekda Papua Barat, lalu berlanjut hingga tahun 2006,” ujar Nausrau.
Upaya penelusuran sejarah juga dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Fakfak dan Kaimana, termasuk pengumpulan naskah-naskah kuno dan dokumen pendukung antara tahun 2009 hingga 2010. Namun, karena belum adanya kesepakatan yang final, riset terus berlanjut hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut mengambil bagian pada tahun 2018 dengan melakukan penelitian di seluruh kabupaten/kota di Papua Barat.
Hasil dari penelusuran tersebut kemudian diterbitkan dalam buku “Moderasi Beragama di Provinsi Papua Barat.” Bahkan pada tahun 2019, MUI Pusat mengadakan Rapat Kerja Nasional di Raja Ampat dan menekankan pentingnya penetapan resmi sejarah masuknya Islam ke Papua.
Seminar Nasional Tetapkan Tanggal Bersejarah
Langkah konkret penetapan sejarah dilakukan melalui seminar nasional pada 10–11 Januari 2025 di Fakfak. Seminar tersebut melibatkan Pemerintah Daerah, MUI, para raja Fakfak dan Kaimana, serta tokoh adat dan agama. Konsensus akhirnya tercapai bahwa tanggal 8 Agustus 1360 M adalah waktu masuknya Islam pertama kali ke Tanah Papua, melalui peran dakwah Syekh Abdul Qafah.
“Alhamdulillah, dalam seminar tersebut disepakati bahwa tanggal 8 Agustus adalah momen bersejarah yang patut diperingati setiap tahun,” tegas Ahmad Nausrau.
Papua, Pintu Gerbang Agama-Agama Samawi
Dalam sambutannya, Nausrau menegaskan bahwa Tanah Papua adalah pintu gerbang masuknya agama-agama samawi ke wilayah timur Indonesia. Fakfak menjadi tempat yang sangat istimewa karena menjadi titik awal dari tiga agama besar yang kini dianut masyarakat Papua.
- Islam masuk melalui Fakfak pada 8 Agustus 1360 M
- Kristen Protestan masuk melalui Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855
- Katolik masuk di Fakfak pada 22 Mei 1894
“Ini bukti bahwa masyarakat Papua adalah masyarakat yang terbuka dan toleran. Bahkan, umat Islam saat itu ikut memfasilitasi kedatangan agama-agama lain seperti Kristen dan Katolik,” jelasnya.
Toleransi sebagai Fondasi Sosial Papua
Ahmad Nausrau juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai toleransi yang telah lama menjadi ciri khas masyarakat Papua, khususnya di Fakfak. Falsafah “Satu Tungku Tiga Batu” menjadi simbol kuat kerukunan antarumat beragama—Islam, Kristen, dan Katolik—yang hidup berdampingan secara harmonis.
“Perbedaan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling mendukung, termasuk dalam pembangunan rumah-rumah ibadah masing-masing,” katanya.
Menurutnya, falsafah tersebut lahir dari nilai-nilai kearifan lokal yang mampu menjawab kebutuhan zaman, bahkan jauh sebelum dunia luar membicarakan pluralisme dan moderasi beragama.
Harapan untuk Masa Depan Papua yang Damai
Wakil Gubernur menutup sambutannya dengan harapan besar bahwa peringatan ini menjadi momentum mempererat persaudaraan dan mendorong semangat pembangunan di Tanah Papua yang damai dan inklusif.
“Mudah-mudahan perayaan ini menjadi penanda semangat kita untuk terus membangun Tanah Papua, menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan sebagai pondasi yang kuat menuju masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Risman)
