WONDAMA, PinFunPapua.com — Dalam puncak perayaan Satu Abad Peradaban Pendidikan di Tanah Papua, Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, menegaskan bahwa peringatan 100 tahun pendidikan bukanlah garis akhir, melainkan tonggak penting untuk menatap masa depan pendidikan Papua yang lebih maju, cerdas, dan bermartabat.
“Seratus tahun adalah tonggak dari suatu proses, bukan garis akhir. Perayaan ini menjadi cermin untuk menengok ke belakang, sekaligus kompas untuk melangkah ke abad kedua pendidikan Papua,” ungkap Gubernur Dominggus di hadapan ribuan peserta perayaan di Aitumieri, Teluk Wondama.
Menurutnya, banyak kemajuan telah diraih, mulai dari meningkatnya akses pendidikan, kesadaran orang tua terhadap pentingnya sekolah, hingga lahirnya generasi muda Papua yang kini menjadi guru, tenaga kesehatan, wirausahawan, peneliti, seniman, dan pejabat publik.
Namun, ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi, seperti rendahnya kualitas literasi dasar, ketimpangan distribusi guru, keterbatasan sarana pendidikan, dan belum meratanya konektivitas digital di wilayah terpencil.
Gubernur Dominggus menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama seluruh daerah di Tanah Papua berkomitmen menjalankan tiga pilar Otonomi Khusus — Papua Cerdas, Papua Sehat, dan Papua Produktif.
Pemerintah terus memperluas akses pendidikan melalui program beasiswa, afirmasi Orang Asli Papua (OAP), serta pembinaan talenta muda di berbagai bidang.
“Kita ingin lebih banyak putra-putri Papua menjadi dokter, perawat, guru, insinyur, peneliti, dan pemimpin masa depan,” tegasnya.
Dominggus juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun pendidikan Papua yang berkelanjutan. Ia menilai pendidikan adalah kerja bersama antara rumah, sekolah, rumah ibadah, kampus, dunia usaha, dan pemerintah.
“Guru harus menjadi teladan integritas dan kasih, orang tua menjadikan rumah sebagai sekolah pertama, dunia usaha membuka peluang magang, perguruan tinggi memperkuat riset terapan, dan pemerintah menghadirkan kebijakan yang berpihak,” ujar Dominggus.
Dalam penutup sambutannya, Gubernur mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga Aitumieri dan Teluk Wondama sebagai rumah peradaban pendidikan di Tanah Papua — tempat iman dan ilmu berjalan beriringan, serta tempat anak-anak Papua terus bermimpi setinggi langit.
“Semoga pelita yang dinyalakan pada 25 Oktober 1925 itu menyala lebih terang, menuntun kita melewati tantangan zaman, dan menerangi setiap kampung dari pesisir hingga pegunungan. Dari Bukit Aitumieri, lahirlah harapan, lahirlah Papua yang abadi,” tutupnya. ( red )
