FAKFAK, PinFunPapua.com – Kampung Tanama, Kabupaten Fakfak, kini menjadi contoh sukses penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Papua Barat. Melalui program desa binaan Politeknik Negeri Fakfak (Polinef) yang digerakkan oleh penerima Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation, mahasiswa berhasil menginstal sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4.250 watt di kampung tersebut.
Program ini dijalankan oleh mahasiswa Polinef penerima beasiswa Pertamina yang menjadikan Kampung Tanama sebagai desa binaan dalam upaya mewujudkan kemandirian energi berbasis sumber daya ramah lingkungan.
Salah satu mahasiswa penerima beasiswa, Riva Wahyu, menjelaskan kepada media ini melalui rilis resmi yang dikirim via WhatsApp, Sabtu (8/11/2025), bahwa implementasi PLTS di Kampung Tanama memberikan dampak besar bagi masyarakat setempat.

“Dengan adanya PLTS, kami di Kampung Tanama kini dapat memanfaatkan energi surya untuk penerangan jalan dan mengoperasikan pompa air hidroponik. Selain itu, kami juga bisa menggunakan sistem rain harvesting untuk menampung air hujan yang digunakan untuk air minum, mandi, dan pertanian,” ujar salah satu penerima manfaat program tersebut.
Berdasarkan perhitungan tim mahasiswa, instalasi EBT ini mampu menekan emisi karbon hingga 4,0–5,8 ton CO₂ per tahun, sekaligus membantu masyarakat menghemat biaya listrik sebesar Rp7 juta hingga Rp10 juta per rumah tangga per tahun.
Saat ini, sekitar 150 rumah tangga telah menikmati manfaat energi bersih tersebut. Selain itu, 55 orang atau 11 kepala keluarga lainnya juga merasakan manfaat melalui fasilitas umum seperti penerangan jalan dan sarana lainnya yang kini bertenaga surya.
Tak hanya menghadirkan listrik, EBT juga dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi seperti:
Produksi abon ikan dan manisan buah pala
Sistem pompa hidroponik
Pengering (dehidrator)
Pengemasan produk UMKM

Dengan adanya energi bersih, produktivitas usaha kecil menengah meningkat signifikan. Pendapatan masyarakat dari sektor hidroponik dan pengolahan ikan diperkirakan naik Rp200.000 hingga Rp500.000 per bulan.
Program ini juga melibatkan pelatihan masyarakat lokal, pemasangan sistem PLTS dan mikrohidro, pelatihan teknisi desa, serta kegiatan clean up dan pengolahan limbah agar manfaatnya berkelanjutan.
Riva Wahyu menegaskan, keberhasilan program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta mampu mendorong transisi energi bersih di wilayah timur Indonesia.
“EBT tidak hanya menghadirkan listrik, tapi juga menghadirkan harapan baru bagi kemandirian energi, peningkatan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan di Kampung Tanama,” ujarnya.
Dengan semangat inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan, mahasiswa Polinef dan Pertamina Foundation membuktikan bahwa energi bersih bisa menjadi kunci masa depan desa-desa di Papua yang lebih mandiri dan sejahtera.
(RISMAN)
