FAKFAK,PinFunPapua.com — Suasana khidmat menyelimuti Graha Le Coq d’Armanvile (Aula Santo Yosep) Fakfak, Rabu (12/11/2025). Para tokoh adat berbusana khas, para raja dari tujuh petuanan, hingga ketua paguyuban dan kepala suku memenuhi aula tempat digelarnya Konferensi III Dewan Adat Mbaham Matta yang berlangsung sejak 5 hingga 10 November 2025.
Di tengah kemeriahan acara tersebut, hadir langsung Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, yang baru saja tiba dari Manokwari usai menghadiri pertemuan bersama Wakil Presiden. Padahal, pada hari yang sama, ia dijadwalkan berada di Jakarta untuk menerima penghargaan dari Kompas TV atas prestasi Fakfak sebagai daerah dengan tingkat toleransi beragama yang tinggi.
Namun, Samaun memilih pulang ke Fakfak.
“Acara ini terlalu penting untuk saya lewatkan,” ujarnya dari atas panggung, disambut tepuk tangan panjang dari para hadirin.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa Fakfak kembali mendapat pengakuan dari pemerintah pusat sebagai daerah dengan tingkat toleransi yang sehat. Sebelumnya, CNN Indonesia juga memberikan apresiasi atas keberhasilan Fakfak dalam pelayanan kesehatan.
“Semua ini hasil kerja kita bersama,” katanya. “Tetapi saya memilih pulang ke Fakfak hari ini karena pengukuhan dewan adat tidak boleh saya wakilkan.”
Pernyataan itu sontak disambut riuh oleh para tokoh adat. Banyak yang menilai, keputusan Bupati menunjukkan bahwa pemerintah daerah menempatkan adat sebagai mitra strategis, bukan sekadar simbol seremonial.
Samaun menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan lembaga adat dalam membangun daerah.
“Negeri yang kuat dibangun oleh pemerintah yang tertib dan adat yang tegak,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat menghadiri pembukaan konferensi sehari sebelumnya. Dalam bagian akhir sambutan, suaranya terdengar lebih mantap saat menegaskan komitmen membangun Fakfak dengan arah baru yang lebih mandiri, terencana, dan berani mengelola masa depan sendiri.
Sambutan tersebut bukan sekadar formalitas. Di mata banyak peserta, setiap kalimat yang diucapkannya terasa seperti peta jalan baru hubungan antara pemerintah dan adat di Tanah Mbaham Matta.(Risman Bauw)
