SENTUL PinFunPapua.com — Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) menggelar Rapat Tahunan yang diikuti para fasilitator dan perwakilan komunitas dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh antusias dan menjadi ruang refleksi bersama untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjalankan kerja-kerja pendampingan sosial.
Pendiri YP3SP, Maria Latumahina, yang sedang menempuh proses akreditasi sebagai seorang Psikoterapis untuk organisasi ( Psycodynamic Organizational Psycotherapist) menjelaskan bahwa secara profesi ia memiliki dua keahlian utama, yakni kemampuan mengoordinasi serta memproses luka dan trauma psikososial. Dua keahlian itu, menurutnya, menjadi dasar dari proses yang digelar dalam pertemuan kali ini.
“Hari ini adalah proses yang benar-benar saya rancang untuk mengurus trauma dan bentuk-bentuk luka psikososial yang muncul dalam cara kita bekerja—rasa takut, marah, atau malu—baik secara individu maupun kolektif dalam organisasi,” ujar Maria saat ditemui di Sentul, Senin (17/11/2025).
Ia menekankan pentingnya ruang untuk menceritakan pengalaman dan perasaan, karena cerita merupakan bagian penting dari penyembuhan. Maria mengutip tokoh pendidikan populer asal Brasil, Paulo Freire, yang mengatakan bahwa “feelings are facts”—bahwa perasaan adalah fakta yang tidak bisa diabaikan.
“Perasaan itu tidak bisa disingkirkan. Ketika diproses, ia memunculkan motivasi dan kesadaran diri yang lebih tinggi. Dan itu yang kita alami dalam pertemuan ini,” kata Maria.
Rapat Tahunan YP3SP berlangsung selama empat hari dan diproyeksikan menjadi ruang aman bagi fasilitator serta komunitas untuk saling memahami, mendengarkan, dan menghargai perasaan masing-masing. Maria berharap proses ini juga mampu membantu peserta menemukan kejelasan mengenai posisi diri dalam organisasi.
“Saya ingin setiap orang pulang dengan kejelasan: saya ini siapa, posisi saya di mana, apa yang baik dan tidak baik menurut saya. Dari kesadaran itu, kita bisa merumuskan aksi yang harus dilakukan,” tuturnya.
Menurutnya, sebuah aksi tidak harus besar, heroik, atau dramatis. Yang terpenting adalah kejelasan arah, keberpihakan, dan ketegasan dalam menentukan langkah.
“Aksi itu harus jelas dan berpihak. Ruang ini bukan ruang netral. Kalau ada yang ingin cari aman, jangan di sini,” tegas Maria.
Ia menambahkan bahwa penentu utama dalam gerakan sosial bukanlah kecepatan atau besarnya langkah, melainkan tekad serta kejelasan posisi dan tujuan dari setiap tindakan.
Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas para fasilitator dan komunitas dalam menjalankan tugas pendampingan, serta membangun solidaritas dalam menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan sosial di Tanah Papua. (red)
