MANOKWARI, PinFunPapua.com – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menilai metode sosialisasi Empat Pilar perlu terus dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi, khususnya untuk menjangkau generasi milenial dan Gen Z yang kini sangat dekat dengan kecerdasan buatan (AI) dan arus informasi global. Penegasan tersebut disampaikan anggota MPR RI, Ir. Abraham Paul Liyanto, dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari, Kamis (27/11/2025), dengan mengangkat subtema “Fondasi Kepemimpinan Mahasiswa untuk Indonesia Emas 2045.”
Dalam paparannya, Liyanto menyebutkan bahwa kemajuan teknologi menjadikan generasi muda lebih cepat mengakses informasi. Namun demikian, nilai sejarah, wawasan kebangsaan, dan pengalaman lintas generasi tetap tidak dapat digantikan oleh mesin cerdas.
“Teknologi berkembang begitu besar. Tanpa dijelaskan pun mereka bisa membuka AI. Tetapi pengalaman dan cerita sejarah tidak dapat digantikan. Itu yang harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa MPR RI saat ini sedang mengevaluasi efektivitas metode sosialisasi Empat Pilar, termasuk bekerja sama dengan media nasional untuk menilai capaian pelaksanaan selama setahun terakhir. Menurutnya, penyampaian materi kebangsaan tidak lagi dapat mengandalkan metode tradisional seperti pembagian buku semata.
“Kalau hanya bagi-bagi buku, mereka tidak akan baca. Maka pendekatannya harus berubah: lewat bercerita, membandingkan dengan negara maju, dan menunjukkan relevansi nilai kebangsaan,” tegasnya.
Liyanto menyampaikan bahwa salah satu pendekatan kreatif yang terbukti efektif adalah penyelenggaraan lomba lagu bertema kebangsaan. Menurutnya, musik—termasuk lagu daerah yang kini banyak dikenal di tingkat nasional dan internasional—mampu menumbuhkan semangat kebangsaan secara lebih emosional bagi generasi muda.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pelurusan pemahaman ketatanegaraan agar masyarakat tidak salah menilai sistem pemerintahan.
“Jangan langsung menyalahkan presiden atau menteri. Yang harus diperbaiki adalah sistemnya, dan itu tugas MPR. Tetapi perubahan tidak boleh hanya mengikuti kemauan generasi kolonial seperti kami. Harus mendengar rakyat,” jelas Liyanto.
Ia berharap ke depan metode sosialisasi semakin banyak melibatkan pemuda melalui pelatihan Training of Trainers (TOT) yang akan diperluas ke kampus, SMA, dan sekolah-sekolah lainnya. “Kami akan terus mengembangkan metode agar pesan kebangsaan diterima generasi sekarang,” tutupnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komite III DPD RI sekaligus Ketua STIH Manokwari, Dr. Filep Wamafma, mengingatkan bahwa derasnya arus informasi global dapat memengaruhi karakter generasi muda apabila tidak dibentengi nilai ideologi dan wawasan kebangsaan yang kuat.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat ideologi, informasi, dan pola pikir dari berbagai belahan dunia masuk dengan mudah, sehingga berpotensi menggeser nilai karakter bangsa.
“Kalau manusia tidak hidup berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan nilai agama, mereka mudah goyah. Karena manusia membutuhkan nilai kehidupan, nilai kebangsaan, dan nilai ideologi sebagai dasar berpikir,” ungkap Filep.
Ia menekankan perlunya internalisasi nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kemajemukan, dan keadilan sosial bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Nilai-nilai tersebut merupakan pilar pembentuk karakter untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Kalau nilai-nilai ini dipahami dengan baik, saya optimis karakter bangsa semakin kuat. Tetapi jika tidak, dalam 100 sampai 300 tahun ke depan nilai-nilai ini bisa hilang,” ujarnya.
Terkait program sosialisasi Empat Pilar, Filep menjelaskan bahwa setiap anggota MPR atau DPD mendapat alokasi minimal enam kegiatan dalam setahun. Namun untuk periode saat ini masih menunggu pembagian resmi berdasarkan masa sidang.
“Kalau ada kesempatan, saya ingin menyasar lebih banyak kampus agar pemahaman ideologi Pancasila semakin kuat. Ini modal dasar bagi generasi muda,” tambahnya. ( red )
