0-0x0-0-0#
MANOKWARI, PinFunPapua.com — Kepala Sekolah SMA Taruna Kasuari Nusantara Papua Barat, Yusuf Ragainaga, menegaskan komitmen pihak sekolah untuk menjatuhkan sanksi tegas terhadap siswa yang terlibat dalam dugaan pengeroyokan antar angkatan yang terjadi pada Rabu malam (22/04/2026).
Ia menekankan, setiap pelanggaran, khususnya kekerasan fisik yang menyebabkan korban cedera, akan diproses sesuai aturan yang berlaku di lingkungan sekolah.
“Setiap pelanggaran pasti kami tindak. Tidak boleh ada kekerasan apalagi sampai menimbulkan korban,” tegasnya.
Pihak sekolah saat ini telah melakukan pendataan awal terhadap siswa yang diduga terlibat. Jumlahnya disebut lebih dari 20 orang dan masih dalam tahap verifikasi lebih lanjut.
Sebagai langkah penanganan, siswa yang terbukti terlibat tidak akan diperbolehkan kembali tinggal di asrama. Meski demikian, sekolah memastikan proses pendidikan tetap berjalan melalui sistem pembelajaran daring.
“Mereka akan dikembalikan ke orang tua, tetapi tetap mengikuti pembelajaran secara online, termasuk ujian,” jelasnya.
Di sisi lain, sekolah juga melakukan penanganan terhadap korban dengan memantau kondisi siswa yang menjalani perawatan medis serta melakukan pendataan untuk dilaporkan ke dinas terkait.
Untuk mencegah potensi konflik lanjutan, pihak sekolah mengambil langkah cepat dengan memulangkan sementara siswa dari lingkungan asrama.
Selain penindakan, evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan berbasis asrama juga akan dilakukan. Evaluasi tersebut mencakup peran guru, pamong asrama, hingga tenaga keamanan.
“Kami akan benahi sistem pembinaan di asrama. Ini menjadi evaluasi penting bagi kami,” ujarnya.
Sebagai upaya pencegahan ke depan, sekolah akan memperkuat pola pembinaan melalui konsep “kakak asuh” dan “adik asuh” guna menciptakan interaksi yang lebih positif antar siswa lintas angkatan.
Sekolah juga dijadwalkan memanggil orang tua siswa kelas X dan XI untuk memberikan penjelasan terkait insiden tersebut sekaligus menyampaikan langkah penanganan yang telah diambil.
Ia menegaskan, peristiwa ini menjadi perhatian serius mengingat tingginya intensitas interaksi dalam sistem pendidikan berbasis asrama.
“Yang melanggar tetap kami proses dan tidak lagi tinggal di asrama,” pungkasnya. (JN)
