Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma (FOTO:Aufrida Marisan)
MANOKWARI, PinFunPapua.com – Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma, menyoroti serius insiden tawuran antar siswa yang terjadi di SMA Taruna Kasuari Nusantara, Papua Barat, pada Kamis (23/4/2026).
Peristiwa kekerasan tersebut dilaporkan melibatkan siswa kelas XI yang diduga melakukan penyerangan terhadap siswa kelas X pada Rabu (22/4) malam. Akibat kejadian itu, sedikitnya delapan siswa mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke RSAL Manokwari guna mendapatkan perawatan medis intensif.
Filep menilai insiden tersebut bukan sekadar kejadian biasa, melainkan puncak dari persoalan yang diduga telah berlangsung lama di lingkungan sekolah. Ia menegaskan bahwa perlu adanya langkah serius dan menyeluruh dari seluruh pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan ini secara tuntas.
“Peristiwa ini harus ditindaklanjuti secara serius. Kami mendorong Dinas Pendidikan Provinsi dan Pangdam Kasuari untuk melakukan evaluasi total. Ini bukan peristiwa tunggal, melainkan indikasi adanya persoalan mendasar dalam tata kelola pendidikan di sekolah tersebut,” ujarnya.
Menurut Filep, kasus kekerasan di lingkungan pendidikan telah mencoreng citra dunia pendidikan serta menunjukkan adanya kelemahan dalam pembinaan karakter siswa. Ia menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi peserta didik untuk tumbuh, belajar, dan berkembang.
Lebih lanjut, ia mendesak agar dilakukan investigasi secara mendalam untuk mengungkap akar permasalahan yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan tersebut. Hal ini dinilai penting guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
“Kami meminta adanya investigasi menyeluruh. Akar masalah harus ditemukan dan diselesaikan. Kekerasan tidak boleh menjadi budaya di lingkungan sekolah,” tegasnya.
Meski demikian, Filep berharap penanganan terhadap siswa yang terlibat dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengedepankan pendekatan kekeluargaan. Ia menilai para siswa masih memiliki masa depan panjang yang harus dijaga.
“Anak-anak ini masih memiliki masa depan. Saya berharap pintu maaf dapat dibuka, dan pendekatan kekeluargaan tetap dikedepankan antara pihak sekolah dan orang tua. Namun demikian, sistem pengelolaan sekolah harus dibenahi secara menyeluruh,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran guru serta pengawasan pihak sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, kondusif, dan bebas dari praktik kekerasan.
Filep menyoroti bahwa pemerintah selama ini telah mengalokasikan anggaran yang besar untuk sektor pendidikan. Oleh karena itu, kejadian seperti ini seharusnya tidak terjadi apabila sistem berjalan dengan baik.
“Kehadiran sekolah seperti SMA Taruna seharusnya menjadi model pendidikan yang berkualitas. Jika masih terjadi kekerasan, berarti ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dan harus segera dituntaskan,” ujarnya.
Ia pun berharap peristiwa ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi semua pihak, baik pemerintah, pihak sekolah, maupun masyarakat, agar dunia pendidikan di Papua Barat dapat kembali berjalan sesuai tujuan, yakni mencetak generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki daya saing tinggi. (red/rls)
