Senator Papua Barat, Dr Filep Wamafma saat ditemui sejumlah wartawan, Senin (9/3/2026). ( FOTO : Aufrida Marisan )
MANOKWARI, PinFunPapua.com – Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma, menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap karya-karya kreatif anak muda yang membangun kesadaran publik tentang Papua melalui seni dan film dokumenter. Apresiasi tersebut disampaikan khusus kepada film dokumenter “Pesta Babi” dan “Teman Tegar Maira” yang dinilai mampu menghadirkan narasi kemanusiaan, identitas budaya, serta realitas kehidupan masyarakat adat Papua secara jujur dan bermartabat.
Menurut Senator asal Papua Barat itu, karya seni dan film dokumenter memiliki peran penting dalam membuka ruang dialog publik, membangun empati, serta menghadirkan sudut pandang yang lebih manusiawi mengenai Papua di tengah berbagai dinamika pembangunan dan perubahan sosial yang terjadi saat ini.
“Papua bukan sekadar tanah yang dipandang dari kekayaannya, tetapi rumah kehidupan yang menyimpan martabat, budaya, dan suara kemanusiaan. Melalui film dokumenter ‘Pesta Babi’ dan ‘Teman Tegar Maira’, kita diajak melihat Papua bukan hanya dari luka sejarah dan benturan pembangunan, tetapi juga dari harapan, keberanian, serta keteguhan masyarakat Papua menjaga identitasnya di tengah perubahan zaman,” ujar Filep Wamafma.
Ia menilai kehadiran film-film dokumenter semacam itu menjadi medium penting untuk menyampaikan realitas kehidupan masyarakat Papua kepada publik secara lebih terbuka, sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat adat Papua memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang harus dihormati.
Menurut Filep, pembangunan di Papua harus berpijak pada penghormatan terhadap masyarakat adat, perlindungan lingkungan hidup, serta keberlanjutan ruang hidup generasi mendatang. Ia menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak semata-mata diukur dari besarnya investasi maupun pembangunan infrastruktur fisik.
“Film-film ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati bukan sekadar menghadirkan investasi dan infrastruktur, melainkan memastikan keadilan, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, kelestarian alam, dan ruang hidup generasi masa depan,” lanjutnya.
Penulis buku “Masyarakat Adat Dalam Pusaran Investasi di Indonesia” itu juga menekankan pentingnya pembangunan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat Papua dan memberikan manfaat luas bagi rakyat, bukan hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Menurutnya, masyarakat adat harus ditempatkan sebagai subjek utama dalam setiap proses pembangunan yang berlangsung di Papua. Selain itu, tanah dan hutan Papua harus tetap dijaga sebagai sumber kehidupan masyarakat adat dan generasi mendatang.
“Pembangunan harus menghadirkan kesejahteraan yang adil, melibatkan masyarakat adat sebagai subjek utama, serta menjaga tanah dan hutan Papua sebagai sumber kehidupan bersama. Kita membutuhkan investasi yang berkeadilan sosial dan berwawasan lingkungan, bukan investasi yang hanya menguntungkan segelintir orang saja,” tegasnya.
Filep juga memberikan penghargaan kepada anak-anak muda Papua maupun Indonesia yang terus menghadirkan karya kreatif dengan semangat kemanusiaan dan kepedulian sosial melalui seni dan film dokumenter.
Ia mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun lembaga pendidikan dan kebudayaan, untuk terus memberikan ruang dan dukungan terhadap karya-karya kreatif yang membangun kesadaran publik tentang Papua secara lebih adil dan manusiawi.
“Karya seni dan film dokumenter adalah suara zaman. Anak-anak muda yang berani menyuarakan realitas Papua melalui karya kreatif harus mendapat dukungan karena mereka sedang menjaga martabat Papua melalui jalur budaya dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia berharap karya-karya seperti “Pesta Babi” dan “Teman Tegar Maira” dapat menjadi sarana edukasi publik sekaligus memperkuat dialog sosial tentang masa depan Papua yang lebih adil, damai, dan bermartabat. (red/rls)
