Warga Kampung Saribi, Distrik Orkeri Provinsi Papua saat melalukan nonton bareng di rumah keluarga bapak yusuf rumbewas
Penulis : Aufrida Marisan
NUMFOR, PinFunPapua.com – Piala Dunia bukan sekadar ajang pertandingan sepak bola antarnegara. Lebih dari itu, kompetisi olahraga terbesar di dunia ini mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk warga di Kampung Saribi, Distrik Orkeri, Kabupaten Biak Numfor, Papua.
Suasana kebersamaan tersebut terlihat saat saya berada di Kampung Saribi pada hari Minggu. Sejak pagi, aktivitas masyarakat berlangsung seperti biasanya. Sejumlah warga tampak menuju dermaga untuk mengantar maupun menjemput keluarga yang menggunakan Kapal Kasuari yang baru bersandar. Sebagian lainnya bersiap mengikuti ibadah Minggu di gereja.
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, ada satu hal yang menarik perhatian. Beberapa warga justru sibuk mencari rumah yang dapat digunakan untuk menonton pertandingan Piala Dunia secara bersama-sama.
Saat itu saya berada di rumah keluarga Bapak Yusuf Rumbewas. Bersama Ibu Elisabet Karma, yang akrab disapa Elis, saya duduk di samping rumah sambil memasak. Tidak lama kemudian, warga datang silih berganti menanyakan hal yang sama.
“Apakah di sini ada siaran bola? Kami mau menonton,” tanya beberapa warga.
Namun, Elis menjelaskan bahwa suaminya sedang mengikuti ibadah di gereja sehingga televisi belum dinyalakan. Meski telah mendapat jawaban tersebut, warga terus berdatangan dengan harapan pertandingan dapat segera disaksikan.
Setelah selesai memasak, saya bersama Direktur Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP), Ester Linda Marleen, dan Elis sebagai Fasilitator membahas persiapan pelaksanaan Lokakarya II yang akan diselenggarakan di Kampung Wansra. Usai berdiskusi, kami bertiga duduk di teras rumah sambil menikmati suasana pagi di Kampung Saribi.
Tidak lama kemudian, warga mulai kembali dari gereja. Menariknya, sebagian besar dari mereka tidak langsung menuju rumah masing-masing, melainkan berkumpul di rumah keluarga Bapak Yusuf Rumbewas.
Alasan mereka berkumpul bukan karena tidak memiliki televisi di rumah. Sebagian besar warga sebenarnya mempunyai televisi. Namun, sejak dini hari listrik di Kampung Saribi mengalami pemadaman sehingga televisi mereka tidak dapat digunakan.
Rumah keluarga Bapak Yusuf menjadi tujuan warga karena memiliki generator set (genset) yang mampu menghasilkan listrik secara mandiri.
Setelah pulang dari gereja, Bapak Yusuf segera menyalakan genset. Tidak lama kemudian, televisi pun menyala dan pertandingan Piala Dunia dapat disaksikan bersama. Satu per satu warga berdatangan. Bukan hanya kaum bapak, tetapi juga ibu-ibu dan anak-anak turut memenuhi rumah untuk menikmati jalannya pertandingan.
Raut wajah bahagia tampak dari para penonton ketika menyaksikan negara yang mereka dukung bertanding. Sorak sorai, tawa, dan tepuk tangan sesekali terdengar, menciptakan suasana hangat yang mempererat hubungan antarwarga.
Kebersamaan yang tercipta di rumah sederhana tersebut menunjukkan bahwa sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat. Keterbatasan fasilitas, bahkan padamnya aliran listrik, tidak mampu menghalangi semangat warga Kampung Saribi menikmati momen Piala Dunia.
Melalui sebuah genset milik warga, pertandingan yang disaksikan bersama berubah menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan sosial masyarakat. Piala Dunia pun bukan hanya menjadi tontonan, melainkan menjadi momen yang menghadirkan kegembiraan, solidaritas, dan kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat Kampung Saribi.
