FAKFAK,PinFunPapua.com – Semangat persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Fakfak kembali diteguhkan. Menjelang pelaksanaan Perhelatan Gereja Maghi dan Masjid Maghi, Sekretariat Tim Kerja bersama Gereja GKI Bethel Waserat dan Masjid Attaqwa Saharey resmi diluncurkan di Jalan Jenderal Ahmad Yani, tepat di samping eks Kantor Klasis GKI Fakfak, Sabtu (11/7/2026).
Peluncuran sekretariat bersama ini bukan sekadar pembukaan posko koordinasi panitia, tetapi menjadi simbol dimulainya konsolidasi besar seluruh elemen masyarakat dalam menyukseskan Perhelatan Gereja Maghi dan Masjid Maghi yang akan berlangsung pada Selasa, 14 Juli 2026, di Gedung KONI Fakfak.
Prosesi peluncuran berlangsung sederhana, namun sarat makna. Kegiatan diawali dengan doa suku sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang diwariskan para leluhur. Suasana kemudian dilanjutkan dengan tos kopi dan minum kopi bersama, sebuah tradisi yang melambangkan persaudaraan, kebersamaan, serta komitmen seluruh komponen masyarakat untuk bergandengan tangan menjaga harmoni di Tanah Mbaham Matta.
Tradisi secangkir kopi yang dibagikan bersama itu menjadi pesan kuat bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan. Sebaliknya, adat telah lama menjadi perekat yang menyatukan masyarakat Fakfak dalam semangat persaudaraan yang diwariskan secara turun-temurun.
Perhelatan Gereja Maghi dan Masjid Maghi diproyeksikan akan melibatkan masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Fakfak, mulai dari Karas Pulau Tiga hingga Tomage Wamosan Tanah Rata. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi lintas agama, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya dan penguatan identitas masyarakat Mbaham Matta yang menjunjung tinggi nilai toleransi.
Wakil Ketua III DPRK Fakfak, Domianus Tuturop, yang meresmikan sekretariat bersama tersebut menegaskan bahwa prosesi adat dalam rangkaian Gereja Maghi dan Masjid Maghi bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi jati diri masyarakat Fakfak.
“Prosesi adat yang akan dilakukan merupakan bagian dari ritual sekaligus refleksi adat. Sebagai umat beragama, kita tidak pernah terlepas dari identitas kita sebagai anak adat yang senantiasa memegang teguh falsafah hidup Satu Tungku Tiga Batu. Nilai inilah yang terus dipelihara dan dijaga dari generasi ke generasi,” ujar Domianus.
Menurutnya, falsafah Satu Tungku Tiga Batu bukan hanya simbol kerukunan, tetapi menjadi pedoman hidup masyarakat Fakfak dalam menjaga persaudaraan di tengah keberagaman agama, suku, dan budaya.
Ia juga mengajak seluruh komponen masyarakat, mulai dari pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, pemuda hingga masyarakat umum, untuk mengambil bagian dalam menyukseskan perhelatan tersebut.
“Kami berharap semakin banyak pihak yang terlibat untuk menyukseskan kegiatan ini. Kehadiran sekretariat bersama menjadi wadah yang menghimpun seluruh panitia agar seluruh persiapan dapat berjalan lebih baik, terarah, dan terkoordinasi,” katanya.
Domianus menilai keberhasilan penyelenggaraan Gereja Maghi dan Masjid Maghi nantinya akan menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Fakfak tetap mampu merawat warisan leluhur melalui semangat gotong royong, kolaborasi, dan rasa saling memiliki.
Peluncuran sekretariat bersama tersebut turut dihadiri Pendeta Yusuf Kmur selaku Gembala Jemaat GKI Bethel Waserat sekaligus perwakilan GKI di Tanah Papua Klasis Fakfak, Pendeta Lois Tilaporu selaku Sekretaris GPI Papua Klasis Fakfak, Ketua Dewan Adat Mbaham Matta Fakfak Apnel Hegemur, Ketua Panitia Pembangunan Gereja GKI Bethel Waserat, Ketua Panitia Pembangunan Masjid Attaqwa Saharey, jajaran panitia, serta tokoh masyarakat.
Keberadaan sekretariat bersama ini diharapkan menjadi pusat koordinasi yang memperkuat sinergi seluruh pihak dalam mempersiapkan salah satu agenda adat dan keagamaan terbesar di Kabupaten Fakfak. Lebih dari sekadar tempat bekerja, sekretariat tersebut menjadi simbol persatuan yang mempertemukan adat, agama, dan budaya dalam satu tujuan mulia, yakni menjaga harmoni yang telah diwariskan oleh para leluhur.
“Persaudaraan sejati tidak lahir karena kesamaan keyakinan, melainkan karena kesediaan untuk saling menghormati. Ketika adat dijaga, agama dimuliakan, dan persaudaraan dipelihara, maka kedamaian akan terus tumbuh dari generasi ke generasi. Itulah makna sejati falsafah Satu Tungku Tiga Batu yang terus hidup di Tanah Mbaham Matta.”
(Jurnalis : Risman Bauw).
