MANOKWARI,PinFunPapua.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi generasi muda di masa depan. Di tengah pesatnya transformasi digital, mahasiswa dituntut tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga menjaga integritas, karakter, serta menjauhi ancaman penyalahgunaan narkotika.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Papua Barat, Brigjen Pol. Sulastiana, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027 Universitas Caritas Indonesia (Uncri), Manokwari.
Dalam pembekalannya, Sulastiana mengajak mahasiswa memahami peluang sekaligus risiko pemanfaatan AI. Menurutnya, teknologi tersebut telah mengubah cara belajar, bekerja, dan berinteraksi sehingga harus dimanfaatkan secara cerdas dan bertanggung jawab.
“AI memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswa, mulai dari mencari referensi, merangkum materi kuliah, menerjemahkan bahasa asing, membantu analisis data, hingga menyusun ide awal dalam penulisan karya ilmiah. Namun, teknologi ini tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir manusia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemanfaatan AI secara tepat mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi belajar, serta mendorong lahirnya inovasi di kalangan mahasiswa. Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian dalam menyelesaikan persoalan.
Wakapolda juga mengingatkan pentingnya menjaga etika akademik di tengah kemajuan teknologi. Menurutnya, AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan jalan pintas yang mengarah pada plagiarisme maupun pelanggaran integritas ilmiah.
“Mahasiswa tetap harus mampu menganalisis, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan berdasarkan kemampuan serta pengetahuan yang dimiliki. Integritas akademik tidak boleh dikorbankan hanya karena kemudahan teknologi,” katanya.
Ia menilai, dunia kerja saat ini juga mengalami perubahan yang sangat cepat. Karena itu, lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki literasi digital, kemampuan beradaptasi, serta memahami etika dalam menggunakan teknologi agar mampu bersaing di era transformasi digital.
Selain membahas AI, Sulastiana memberikan perhatian khusus terhadap ancaman penyalahgunaan narkotika yang dinilai masih mengintai generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai kelompok usia produktif.
Menurutnya, mahasiswa merupakan calon pemimpin bangsa yang harus menjaga masa depan sejak dini dengan menjauhi segala bentuk penyalahgunaan narkoba.
“Jangan pernah mencoba narkotika. Sekali terjerumus, bukan hanya kesehatan yang rusak, tetapi juga prestasi akademik, masa depan, bahkan karier yang telah dibangun dengan susah payah bisa hancur,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, perkembangan teknologi digital juga dimanfaatkan jaringan peredaran narkotika untuk mencari sasaran baru. Karena itu, mahasiswa harus memiliki kemampuan menyaring informasi, memperkuat karakter, dan berani menolak segala bentuk ajakan yang mengarah pada penyalahgunaan narkoba.
Sulastiana mengajak seluruh mahasiswa membangun budaya hidup sehat di lingkungan kampus, saling mengingatkan antarsesama, serta tidak ragu melaporkan apabila mengetahui adanya indikasi penyalahgunaan maupun peredaran gelap narkotika.
Pesan tersebut, menurutnya, sejalan dengan upaya pencegahan yang terus dilakukan berbagai pihak mengingat kelompok usia 15 hingga 24 tahun menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkotika. Karena itu, kampus memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi sekaligus benteng pencegahan.
Dalam kesempatan itu, Wakapolda juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) bagi kampus maupun masyarakat.
Ia mengatakan, mahasiswa bukan hanya dituntut berprestasi di bidang akademik, tetapi juga harus memiliki kepedulian sosial, keberanian menyampaikan gagasan, dan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.
“Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Mahasiswa harus menjadi motor penggerak perubahan, menjaga integritas, membangun budaya akademik yang sehat, serta ikut menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan, narkotika, dan penyebaran informasi menyesatkan,” ujarnya.
Menurut Sulastiana, semangat kepemimpinan harus dibangun sejak masa kuliah melalui organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Dari ruang-ruang itulah mahasiswa belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan publik.
Ia berharap para mahasiswa baru Universitas Caritas Indonesia mampu menjadi generasi unggul yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat, integritas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
“Dengan bekal pengetahuan, moral yang kuat, serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijaksana, mahasiswa akan menjadi kekuatan besar dalam mendorong kemajuan kampus, masyarakat, dan pembangunan Papua Barat di masa depan,” pungkasnya.
(Jurnalis : Dhy)
