FAKFAK,PinFunPapua.com – Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) ke-III Himpunan Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik (HMP-AP) STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak resmi ditutup, Minggu malam (20/9/2026).
Penutupan yang berlangsung di Aula Kampus STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak tersebut dilakukan Dewan Pembina HMP-AP, Marthen A. Pentury, SE., M.Sc.
Dalam pesannya, Marthen menegaskan bahwa LDKM bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa agar memiliki kemampuan kepemimpinan, akuntabilitas, integritas dan dedikasi.
Menurutnya, sebelum seseorang mampu memimpin orang lain, hal paling mendasar yang harus dimiliki adalah kemampuan memimpin dirinya sendiri, termasuk mengendalikan emosi dan sikap.
“Sebelum memimpin orang lain, minimal harus mampu memimpin diri sendiri dan mampu mengendalikan emosi,” tegas Marthen.
Ia meminta seluruh peserta tidak berhenti menerapkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti LDKM di lingkungan kampus. Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang didapat harus mampu dibawa ke lingkungan masyarakat maupun forum-forum publik.
Apa yang diperoleh dalam forum tersebut, kata Marthen, harus menjadi modal bagi mahasiswa untuk membangun keberanian berbicara, berpikir kritis dan tampil di hadapan publik.
“Dari lingkungan kampus, kalian harus mampu membentuk diri menjadi pemimpin. Apa yang kalian dapatkan dalam forum ini jangan hanya dikembangkan di sini, tetapi presentasikan juga di lingkungan masyarakat dan forum-forum besar,” ujarnya.
LDKM Harus Tetap Hidup
Marthen berharap siapapun yang nantinya dipercaya menjadi Ketua HMP-AP dapat menjaga keberlanjutan LDKM sebagai bagian dari proses kaderisasi mahasiswa.
Ia menilai kegiatan tersebut penting karena menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk melatih mental dan keterampilan sebelum menghadapi berbagai proses akademik maupun tantangan di luar kampus.
“Siapapun yang menjadi Ketua HMP-AP nantinya, saya berharap kegiatan LDKM tetap dijalankan dan tetap hidup. Lewat LDKM, mahasiswa sudah mulai melatih mental dan skill sebelum mengikuti berbagai proses perkuliahan maupun menghadapi dunia di luar kampus,” katanya.
Menurutnya, LDKM merupakan fondasi awal bagi mahasiswa untuk berkembang. Kemampuan tersebut harus terus diasah melalui pengalaman dan berbagai ruang pembelajaran lainnya.
“Latihan dasar ini merupakan basic awal bagi adik-adik mahasiswa. Setelah ini, terus tambahkan kemampuan dan pengalaman agar mampu bersaing dengan siapa pun di luar sana,” pesan Marthen.

“Pemimpin yang kuat bukan lahir dari mereka yang tidak pernah takut, tetapi dari mereka yang mampu mengendalikan rasa takut dan tetap berani melangkah.”
Mewakili pimpinan STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak, Marthen juga menyampaikan terima kasih kepada panitia dan mahasiswa baru yang telah mengikuti seluruh rangkaian LDKM hingga selesai.
Dari Tak Berani Bicara Menjadi Berani Tampil
Sementara itu, Ketua Umum HMP-AP STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak, Nanda H. Putri Weripih, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja hingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dan ditutup dengan baik.
Ia berharap semangat yang telah dibangun selama LDKM dapat diteruskan dan menjadi budaya positif bagi mahasiswa baru yang bergabung di HMP-AP.
Nanda juga mengapresiasi antusiasme para mahasiswa baru yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga penutupan.
Menurutnya, salah satu hal yang paling berkesan dalam kegiatan tersebut adalah adanya peserta yang sebelumnya tidak memiliki keberanian untuk berbicara di depan banyak orang. Namun, melalui proses LDKM, peserta tersebut mulai berani tampil dan berbicara di hadapan publik.
Perubahan tersebut, kata Nanda, menjadi salah satu bukti bahwa LDKM tidak hanya memberikan materi kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri mahasiswa.
“Yang menarik, ada peserta yang awalnya tidak memiliki keberanian untuk tampil dan berbicara di depan banyak orang. Tetapi melalui kegiatan LDKM HMP-AP, mahasiswa tersebut akhirnya berani tampil,” ungkap Nanda.
Ia berharap pengalaman tersebut menjadi awal bagi seluruh peserta untuk terus mengembangkan kemampuan diri, tidak hanya dalam organisasi, tetapi juga dalam kehidupan akademik dan masyarakat.
“Keberanian untuk tampil adalah langkah pertama. Setelah berani berbicara, mahasiswa harus belajar agar apa yang disampaikan memiliki isi, manfaat dan tanggung jawab.”
Nanda menegaskan, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengikuti perkuliahan dan mengejar nilai akademik. Mahasiswa juga dituntut membangun karakter, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan serta kepekaan terhadap lingkungan sosial.
Melalui LDKM ke-III ini, HMP-AP berharap lahir mahasiswa yang lebih percaya diri, bertanggung jawab dan siap mengambil peran dalam organisasi maupun masyarakat.
Sebab, kepemimpinan tidak selalu dimulai dari panggung yang besar. Ia bisa dimulai dari keberanian kecil untuk berdiri, berbicara dan bertanggung jawab atas apa yang diperjuangkan.
(Jurnalis : Risman Bauw).
