FAKFAK,PinFunPapua.com – Ilmu manajemen proyek tidak boleh berhenti sebagai teori yang hanya dipelajari di dalam ruang kelas. Mahasiswa dituntut mampu memahami bagaimana sebuah proyek direncanakan, dikelola, dilaksanakan hingga dievaluasi ketika berhadapan langsung dengan realitas di lapangan.
Pesan tersebut disampaikan Dosen STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak, Marthen A. Pentury, saat memberikan materi Manajemen Proyek kepada mahasiswa semester VII, Sabtu (26/9/2026).
Dalam pembelajaran tersebut, Marthen menerapkan metode belajar di luar kampus untuk memberikan pengalaman yang lebih konkret kepada mahasiswa. Menurutnya, pembelajaran akan lebih bermakna ketika teori yang diperoleh di bangku kuliah dapat dikaitkan dengan persoalan yang terjadi di ruang publik.
“Belajar itu bukan hanya di dalam ruangan. Pembelajaran di luar ruangan juga penting agar mahasiswa dapat memahami materi manajemen proyek dengan baik dan nantinya mampu mengimplementasikan pengetahuan tersebut di ruang publik,” ujar Marthen.
Ia menjelaskan, manajemen proyek merupakan proses yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan hingga pengendalian sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu dalam batas waktu dan sumber daya yang telah ditetapkan.
Menurut Marthen, proyek juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan pekerjaan rutin. Sebuah proyek memiliki tujuan, batas waktu, sumber daya serta tahapan pelaksanaan yang harus dikelola secara sistematis.
Karena itu, mahasiswa perlu memahami seluruh tahapan tersebut, mulai dari identifikasi atau inisiasi, desain dan perencanaan, implementasi, evaluasi, audit hingga terminasi atau penutupan proyek.
“Proyek yang baik bukan hanya tentang bagaimana pekerjaan dimulai, tetapi bagaimana setiap tahapan direncanakan, dikendalikan dan dipertanggungjawabkan hingga mencapai tujuan,” menjadi pesan penting dalam pembelajaran tersebut.
Marthen juga menjelaskan bahwa proyek dapat berbentuk fisik maupun nonfisik. Keduanya tetap membutuhkan perencanaan, pengelolaan sumber daya, tujuan yang jelas, skala pekerjaan serta mekanisme pelaksanaan yang terukur.
Dalam praktiknya, kata dia, pengelolaan proyek tidak terlepas dari dinamika kepentingan dan proses pengambilan keputusan. Ia juga menyinggung fenomena keterlibatan tim pemenangan kandidat dalam membawa atau mengelola proyek pada konteks tertentu.
Pengalaman praktis tersebut menjadi bagian dari wawasan yang dibagikan kepada mahasiswa. Marthen diketahui pernah menjalankan tugas sebagai tenaga ahli Bupati Fakfak periode 2021–2023. Pengalaman itu menjadi salah satu bekal dalam memberikan gambaran mengenai dinamika pekerjaan di lapangan.
Ia juga menekankan pentingnya mahasiswa memahami aturan dan mekanisme yang berkaitan dengan proyek, termasuk proses pengadaan atau tender. Dengan pemahaman tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengetahui proyek dari sisi teori, tetapi juga memahami tata kelola dan ketentuan yang berlaku.
Kepada mahasiswa semester VII, Marthen berharap materi Manajemen Proyek tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik. Mahasiswa harus mampu menghubungkan teori dengan praktik agar memiliki kemampuan membaca persoalan, menyusun perencanaan dan memahami proses pengelolaan proyek secara sistematis ketika berada di tengah masyarakat.
“Ilmu tidak akan banyak berarti jika hanya tersimpan di ruang kelas. Pengetahuan menjadi bernilai ketika mampu diterapkan untuk membaca persoalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar nilai akademik. Lebih dari itu, pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu menggunakan pengetahuan untuk menjawab kebutuhan dan persoalan nyata.
Sebab, teori memberi arah, tetapi pengalaman memberi pemahaman. Dan ilmu yang benar-benar bernilai adalah ilmu yang mampu memberi manfaat bagi sesama.
(Jurnalis : Risman Bauw).
