MANOKWARI,PinFunpapua.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas hingga sejumlah wilayah di Papua Barat. Asap yang berasal dari kebakaran di Papua Selatan bahkan terbawa angin hingga menutupi Manokwari dan berdampak ke wilayah lain di luar Papua.
Kepala Badan Klimatologi Kelas III Papua Barat, Sony Hartono, mengatakan penyebaran kabut asap telah menjangkau berbagai daerah, mulai dari Manokwari hingga Kaimana.
Menurut Sony, kebakaran hutan dan lahan menjadi penyebab utama munculnya kabut asap tersebut. Di Papua Barat, konsentrasi titik kebakaran terpantau di wilayah selatan Teluk Bintuni, bagian barat Kaimana, dan bagian timur Fakfak.
“Penyebabnya hanya satu, kebakaran hutan dan lahan. Wilayah yang terkonsentrasi titik kebakaran hutan ada di Bintuni sebelah selatan, kemudian Kaimana sebelah barat dan Fakfak bagian timur,” kata Sony.
Sony menjelaskan, wilayah Teluk Bintuni, Kaimana, dan Fakfak memiliki karakteristik iklim yang berbeda dibandingkan sejumlah daerah lainnya. Wilayah tersebut cenderung kering sehingga memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau.
Kondisi itu semakin diperparah oleh fenomena El Nino yang menyebabkan wilayah yang sudah kering menjadi semakin kering, sehingga risiko kebakaran meningkat.
“Ketika musim kemarau datang disertai El Nino, daerah tersebut yang sudah kering menjadi semakin kering. Itu yang membuat potensi kebakaran semakin tinggi,” ujarnya.
Sony menyebutkan, kebakaran hutan juga terjadi dalam jumlah besar di wilayah Papua Selatan. Berdasarkan data yang disampaikannya, pada periode 1–12 Oktober 2026, tercatat sekitar 11.000 titik kebakaran di wilayah yang dimaksud.
Asap dari kebakaran tersebut terbawa angin hingga ke Papua Barat. Selain itu, kebakaran di wilayah Papua Nugini yang berbatasan dengan Merauke turut menjadi perhatian karena intensitasnya disebut cukup besar.
Sony mengatakan, pada pekan sebelumnya, arah angin membawa asap dari wilayah Merauke menuju Manokwari sehingga kabut asap sempat menyelimuti kota tersebut dengan cukup tebal.
Namun, perubahan arah angin pada pekan ini membuat asap bergerak ke arah timur menuju wilayah Maluku.
“Pekan lalu Manokwari ditutupi asap yang begitu tebal. Namun, pekan ini ada pergeseran angin. Asap tidak mengarah ke Manokwari, tetapi bergerak ke arah timur, menuju Ambon, Banda Neira, dan Maluku Utara,” jelasnya.
Menurut dia, penyebaran asap hingga wilayah yang jauh dari sumber kebakaran menunjukkan besarnya dampak karhutla yang terjadi di kawasan selatan Papua.
Sony menegaskan, langkah paling utama untuk mengatasi kabut asap adalah menghentikan kebakaran hutan dan lahan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga diharapkan membantu proses pemadaman melalui upaya meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran.
Terkait prakiraan cuaca, Sony memperkirakan sejumlah wilayah di Papua Barat mulai memasuki musim hujan pada akhir Oktober 2026. Meski demikian, curah hujan pada periode awal diperkirakan belum terlalu tinggi.
“Pada November, hujan diperkirakan lebih banyak. Dengan kondisi itu, kebakaran hutan dan kabut asap diharapkan mulai berkurang,” katanya.
Sementara itu, wilayah Merauke diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026. Perbedaan waktu masuknya musim hujan tersebut membuat potensi kebakaran dan penyebaran asap masih perlu diwaspadai.
Sony menambahkan, Manokwari diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir Oktober. Adapun wilayah Manokwari Selatan diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengalami perubahan kondisi cuaca.
Dengan demikian, penghentian sumber kebakaran dan dukungan kondisi cuaca menjadi faktor penting untuk mengurangi dampak kabut asap yang kini meluas hingga lintas wilayah.
(Jurnalis : Dhy).
