MANOKWARI, PinFunPapua.com – Pemerintah Provinsi Papua Barat tengah mempersiapkan relokasi SMA Negeri Taruna Kasuari Nusantara ke lokasi yang lebih representatif guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan berbasis asrama di wilayah tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Abdul Fatah, dalam acara kelulusan 82 siswa kelas XII angkatan kedua yang digelar secara sederhana di Manokwari, Senin (6/05/2025)
Menurut Abdul Fatah, lokasi SMA Taruna saat ini yang berada di tengah permukiman masyarakat dinilai kurang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar dan pembinaan siswa, terutama karena sering terjadi gangguan dari lingkungan sekitar.
“Lokasi sekolah saat ini memang tidak memungkinkan untuk pengembangan jangka panjang. Oleh karena itu, kami sudah menyiapkan lahan seluas 10 hektare di wilayah Abasi sebagai lokasi baru. Lahan ini telah memenuhi syarat dan sudah kami laporkan kepada Gubernur,” ujar Fatah.
Ia menambahkan bahwa Gubernur Papua Barat telah memberikan arahan agar pembangunan fasilitas olahraga, seperti lapangan basket dan voli, segera diprogramkan dalam anggaran tahun 2025. Dengan demikian, proses relokasi diharapkan bisa dimulai pada tahun ajaran baru yang akan datang.
“Jika mendapat respon dari Gubernur, maka proses pemindahan ke lokasi baru di Abasi dapat segera direalisasikan. Kami juga akan segera mengundang kepala sekolah dan wakil kepala sekolah untuk membicarakan proses teknis relokasi tersebut,” imbuhnya.
Relokasi ini merupakan bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan di Papua Barat yang sejalan dengan program Asta Cipta Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin keempat yang menekankan penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan berbasis asrama atau boarding school.
Abdul Fatah menjelaskan, pemerintah pusat saat ini juga sedang membangun sekolah unggulan seperti SMA Garuda dan Sekolah Rakyat, yang meskipun berbeda pengelola dan sumber pendanaannya, tetap memiliki tujuan utama yang sama: meningkatkan kualitas pendidikan nasional serta menekan angka kemiskinan di wilayah timur Indonesia.
SMA Garuda, misalnya, akan dikelola oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sainstek, sementara Sekolah Rakyat akan berada di bawah pengawasan Kementerian Sosial, dengan dukungan kurikulum dari Kementerian Pendidikan dan pembangunan infrastruktur dari Kementerian PUPR. Kedua jenis sekolah tersebut dirancang untuk memberikan kesempatan kepada siswa berprestasi, tanpa memandang latar belakang suku atau status ekonomi.
Lebih lanjut, Fatah juga menyinggung soal pengurangan peran mitra pengamanan dari unsur TNI di lingkungan SMA Taruna. Menurutnya, kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat SMA Taruna Kasuari Nusantara merupakan sekolah berasrama yang membutuhkan pengawasan dan pengamanan ketat untuk menjamin kedisiplinan dan keselamatan siswa.
“Kami sedang berupaya kembali menjalin kerja sama dengan Kodam untuk memanfaatkan tenaga purna tugas TNI atau TNI aktif agar bisa memperkuat sistem pembinaan dan pengamanan di asrama. Ini penting demi menjaga karakter dan kedisiplinan siswa selama berada di lingkungan sekolah,” jelas Fatah.
Pemerintah Provinsi Papua Barat berharap seluruh proses relokasi, pengadaan sarana pendukung, serta penguatan sistem pengelolaan sekolah dapat berjalan lancar demi menjawab tantangan pendidikan di masa depan. Dengan relokasi ini, SMA Taruna Kasuari Nusantara diharapkan mampu menjadi model sekolah unggulan berbasis asrama yang menghasilkan generasi unggul dan berdaya saing. (red)
