Empat siswa SMA Negeri 1 Fakfak berhasil menembus babak final AIERA International Competition on AI in Education 2025, sebuah ajang bergengsi tingkat internasional yang akan digelar di Universitas Pendidikan Hongkong (EduHK) pada Selasa, 17 Juni 2025 (FOTO : Risman Bauw)
FAKFAK, PinFunPapua.com — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda Papua Barat. Empat siswa SMA Negeri 1 Fakfak berhasil menembus babak final AIERA International Competition on AI in Education 2025, sebuah ajang bergengsi tingkat internasional yang akan digelar di Universitas Pendidikan Hongkong (EduHK) pada Selasa, 17 Juni 2025.
Mereka adalah Sultan Daffa Al-Kahfi Bayu A, Nadika Naura Yuanita, Hilman Syah Arya Bimantara, dan Elvira Maylesya, yang tergabung dalam Tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) Smansa Fakfak. Tim ini akan mempresentasikan proyek kecerdasan buatan bertajuk “Yrish Edu: Pembelajaran Cerdas untuk Semua”, sebuah inovasi digital berbasis aplikasi Android yang mengintegrasikan teknologi AI untuk sektor unggulan lokal.
Menurut Chandra Sri Ubayanti, guru pendamping tim, perjalanan menuju final kompetisi internasional tersebut berlangsung sejak Maret hingga Mei 2025, melalui serangkaian tahap seleksi ketat yang melibatkan peserta dari berbagai negara.
“Alhamdulillah, tim kami diumumkan sebagai finalis pada 3 Juni 2025 dan mendapatkan undangan resmi untuk mempresentasikan hasil karya langsung di Hongkong. Kami juga mendapatkan dukungan penuh berupa transportasi dan akomodasi dari Jakarta ke Hongkong selama dua hari,” ungkap Chandra saat ditemui di Fakfak, Senin (16/6/2025).

AIERA International Competition on AI in Education diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Hongkong bekerja sama dengan Aliansi Penelitian dan Pendidikan Kecerdasan Buatan. Kompetisi ini bertujuan mendorong integrasi kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan serta memperkuat kolaborasi global antar pelajar, guru, peneliti, dan profesional industri.
Proyek Yrish Edu yang diusung tim Smansa Fakfak menjadi perhatian karena memadukan inovasi digital dengan kearifan lokal. Aplikasi tersebut dirancang sebagai platform pembelajaran interaktif yang menghubungkan tiga elemen penting dalam ekosistem komoditas pala: petani, pedagang (pengepul), dan pembeli.
“Kami ingin menyasar sektor pala karena sekitar 70 persen masyarakat Fakfak menggantungkan hidup pada komoditas ini. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal,” jelas Chandra.
Aplikasi ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan informasi, memberikan edukasi digital kepada para pelaku di sektor pala, serta mendorong peningkatan kesejahteraan melalui pendekatan berbasis teknologi dan kecerdasan buatan.
Keikutsertaan SMA Negeri 1 Fakfak di panggung internasional ini menjadi bukti bahwa pelajar dari wilayah timur Indonesia mampu bersaing secara global. Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi sekolah-sekolah lain di Papua Barat untuk terus mengembangkan potensi siswa, khususnya dalam bidang teknologi, inovasi, dan sains. (red)
