FAKFAK,PinFunPapua.com – Menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) perdana masuknya Islam di Tanah Papua yang akan digelar pada 8 Agustus 2025, Tim Anggota DPR Papua Barat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Fakfak. Kunjungan ini bertujuan meninjau secara langsung dua situs bersejarah penting, yakni situs masuknya Islam di Kampung Gar Tuare, Distrik Furwagi, Petuanan Rumbati, dan situs masuknya agama Katolik di Pulau Bone, Distrik Fakfak Tengah, Petuanan Fatagar.
Ketua Tim DPR Papua Barat, H. Asri, S.T., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda gabungan komisi dan fraksi DPR Papua Barat. Tujuan utamanya adalah memastikan kesiapan lapangan menyambut momen penting dalam sejarah keagamaan di Tanah Papua.
“Kami melihat momen ini sangat bersejarah. Rencananya, kegiatan peringatan akan dihadiri langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Oleh karena itu, kami ingin memastikan seluruh kesiapan teknis dan infrastruktur pendukung telah terpenuhi,” ujar Asri kepada awak media usai peninjauan, Sabtu (5/7/2025).
Ia menegaskan bahwa meskipun tanggung jawab utama revitalisasi situs berada di tingkat provinsi, namun Pemerintah Kabupaten Fakfak juga harus mengambil peran aktif sebagai tuan rumah perayaan.
“Penerangan, air bersih, dan fasilitas MCK harus segera dipersiapkan. Kami sudah berdialog langsung dengan Bupati Fakfak dan mendapat respons yang sangat positif. Pemerintah daerah siap bersinergi dan mendukung penuh agenda ini,” tambahnya.
Selain meninjau situs sejarah Islam, tim juga mengunjungi lokasi masuknya agama Katolik di Pulau Bone, yang selama ini diperingati setiap 22 Mei. Dalam peninjauan tersebut, Anggota Komisi DPR Papua Barat, Clifford H. Ndandarmana, S.E., menyoroti perlunya peningkatan akses jalan menuju situs Katolik tersebut.
“Warga mengusulkan agar akses jalan sepanjang 420 meter dicor beton agar kendaraan roda dua bisa menjangkau lokasi dengan mudah. Dinas PUPR Provinsi sudah mencatat hal ini dan akan menyusun master plan agar bisa dianggarkan dalam APBD tahun 2026,” jelas Clifford.
Menurutnya, dukungan masyarakat setempat sangat penting dalam menyukseskan peringatan ini, yang bukan hanya menjadi milik Fakfak, tetapi juga bagian dari warisan sejarah Tanah Papua secara keseluruhan.
“Ini bukan hanya tentang Fakfak. Ini adalah sejarah bersama yang mengajarkan toleransi, kebersamaan, dan identitas Tanah Papua sebagai rumah dari berbagai keyakinan,” pungkasnya.
Kegiatan kunjungan ini mempertegas komitmen DPR Papua Barat dalam mendorong pelestarian situs-situs keagamaan dan menjadikan peringatan sejarah keagamaan sebagai pijakan untuk memperkuat pembangunan berbasis budaya, spiritualitas, dan harmoni antarkomunitas. ( Risman )
