FAKFAK,PinFunPapua.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan pentingnya penguatan ketahanan pangan nasional melalui program swasembada pangan, khususnya untuk komoditas strategis seperti padi dan jagung. Arahan tersebut kini ditindaklanjuti hingga ke tingkat daerah, termasuk oleh Pemerintah Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak, Zulkifly Laode Hilu, SP, MM, saat ditemui awak media di Fakfak, Rabu (21/1/2026).
Zulkifly menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Fakfak terus mendorong Dinas Pertanian agar aktif menjalankan program swasembada pangan secara berkelanjutan, sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Pemerintah pusat menargetkan swasembada beras nasional pada periode 2025–2035, dengan tahun 2025–2026 sebagai fase awal yang sangat menentukan.
“Sebagai bentuk dukungan terhadap target tersebut, Kabupaten Fakfak mendapat alokasi program cetak sawah seluas 450 hektare dari pemerintah pusat. Program ini akan dilaksanakan secara bertahap. Untuk tahun 2026, direncanakan pencetakan sawah seluas 150 hektare yang difokuskan di wilayah Bomberai dan Asparaga, dan perencanaan teknisnya sudah disiapkan,” ungkap Zulkifly.
Ia menambahkan, alokasi 450 hektare lahan sawah tersebut merupakan hasil upaya lobi Pemerintah Kabupaten Fakfak kepada Kementerian Pertanian. Pemerintah daerah menargetkan seluruh luasan cetak sawah dapat direalisasikan hingga tahun 2029, sehingga Fakfak mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian swasembada pangan nasional.
Dalam waktu dekat, Tim Survey, Investigasi, dan Desain (SID) dari Manokwari dijadwalkan tiba di Fakfak pada Jumat mendatang untuk melakukan peninjauan lapangan di wilayah Bomberai. Selanjutnya, pada Senin akan digelar pertemuan khusus bersama Bupati dan Wakil Bupati Fakfak serta Tim SID Provinsi Papua Barat guna memfinalisasi desain dan perencanaan teknis program tersebut.
Meski pusat pengembangan swasembada pangan Papua difokuskan di Merauke, Zulkifly menegaskan bahwa Fakfak optimistis dapat menjadi daerah penyangga swasembada pangan nasional, terutama apabila target pencetakan 450 hektare sawah dapat tercapai sebelum tahun 2030.
Ia juga mengakui bahwa tantangan utama saat ini adalah keterbatasan sumber daya manusia petani, khususnya di wilayah Bomberai. Namun demikian, kondisi tersebut terbantu dengan kehadiran Batalyon Pangan yang turut mendukung proses pencetakan sawah dan pengelolaan lahan pertanian.
Selain itu, Fakfak memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian padi dengan dukungan infrastruktur irigasi. Bendungan yang dibangun sejak tahun 2014–2015 di wilayah Bomberai diketahui mampu mengairi hingga 1.200 hektare lahan sawah.
“Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, kami optimistis Kabupaten Fakfak dapat menjadi daerah swasembada beras dan berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional,” tutup Zulkifly.(Risman Bauw)
