FAKFAK,PinFunPapua.com – Kepala Kampung Otoweri, Daing Kutanggas, bersama seluruh masyarakat menyampaikan keresahan atas belum difungsikannya Puskesmas Pembantu (Pustu) Otoweri yang telah dibangun sejak tahun 2022. Meski bangunan telah berdiri kurang lebih lima tahun, hingga kini belum ada tenaga kesehatan yang ditempatkan.
Hal tersebut disampaikan Daing Kutanggas kepada media di Fakfak, Kamis (19/2/2026). Ia mempertanyakan alasan belum adanya petugas medis, baik mantri maupun bidan, yang bertugas di Pustu Otoweri.
“Apakah karena jarak yang jauh dan transportasi yang sulit sehingga tidak ada satu pun petugas yang mau bertugas di Pustu Otoweri?” ujarnya.
Menurut Daing, keberadaan Pustu sangat vital bagi masyarakat di wilayah terpencil seperti Kampung Otoweri. Ia menilai pelayanan kesehatan dasar seharusnya dapat diakses secara merata, termasuk oleh masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota.
“Kami mohon kepada pemerintah daerah agar memperhatikan masyarakat yang jauh dari kota, khususnya di bidang pelayanan kesehatan. Pustu ini sangat penting bagi kami,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa Puskesmas Pembantu (Pustu) merupakan unit pelayanan kesehatan jaringan puskesmas yang memberikan layanan kesehatan dasar secara permanen di tingkat desa atau kelurahan guna meningkatkan akses dan jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat.
Daing juga menggambarkan kondisi sulit yang dialami warga ketika sakit. Menurutnya, tidak semua masyarakat memiliki biaya untuk berobat ke kota karena jarak yang cukup jauh dan akses transportasi yang terbatas.
“Kalau masyarakat sakit, tidak mungkin selalu turun ke kota untuk berobat karena terlalu jauh. Kalau punya uang mungkin bisa, kalau tidak, mereka hanya menunggu nasib. Karena itu, kami berharap Pustu harus diaktifkan agar pelayanan dasar bisa dilayani di kampung. Jika tidak bisa ditangani, baru dirujuk ke puskesmas, dan jika perlu baru ke rumah sakit,” jelasnya.
Selain itu, Daing turut menyoroti pelayanan di Puskesmas Tomage. Ia mengungkapkan, baru-baru ini dua anak kecil yang mengalami diare dan satu orang dewasa datang berobat ke Puskesmas Tomage, namun baru mendapatkan pelayanan setelah menunggu dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIT.
“Bagi saya ini sangat miris sekali. Pelayanan kesehatan seharusnya menjadi kebutuhan dasar masyarakat,” katanya
Atas kondisi tersebut, ia meminta Pemerintah Kabupaten Fakfak, dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati Fakfak, untuk mengevaluasi kinerja Kepala Puskesmas dan seluruh pegawai Puskesmas Tomage agar pelayanan kepada masyarakat dapat ditingkatkan.
Lebih lanjut, Daing menegaskan bahwa pengaktifan Pustu sejalan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Fakfak, terutama dalam transformasi pelayanan kesehatan primer, program kesehatan gratis berbasis KTP, serta peningkatan infrastruktur hingga menjangkau wilayah terpencil.
“Kami berharap pemerintah daerah bisa menghadirkan tenaga medis untuk mengaktifkan Pustu-Pustu di semua kampung, termasuk di Otoweri. Bangunannya sudah ada, tetapi pegawainya tidak ada,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Puskesmas Tomage maupun Dinas Kesehatan setempat belum memberikan keterangan resmi terkait sorotan tersebut. (R.B)
