Menghapus Jarak dengan Rakyat, Fachry Tura Dengarkan Keluhan Mama-mama di Pasar Tumburuni, (Foto: Risman Bauw).
FAKFAK,PinFunPapua.com – Pemandangan berbeda terlihat dalam pelaksanaan Reses II Tahun 2026 yang dilakukan Anggota DPR Provinsi Papua Barat dari Fraksi PDI Perjuangan, Fachry Tura, Senin (8/6/2026). Jika biasanya kegiatan reses berlangsung di gedung atau ruang pertemuan, kali ini Fachry memilih turun langsung ke Pasar Rakyat Tumburuni, bertemu dan mendengarkan suara para mama-mama pedagang yang setiap hari berjuang menghidupi keluarga mereka.
Langkah tersebut mendapat sambutan hangat dari para pedagang. Di sela aktivitas jual beli, Fachry duduk bersama para mama-mama pasar, berdiskusi, mendengar keluhan, bahkan ikut berbelanja dan memborong hasil dagangan mereka. Suasana yang awalnya kaku berubah menjadi penuh keakraban ketika politisi PDI Perjuangan itu menikmati kopi sambil berbincang santai bersama warga.
Dalam pertemuan tersebut, para pedagang menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi. Mulai dari keterbatasan tempat berjualan, kebutuhan meja dan payung pelindung, hingga persoalan transportasi dari kampung ke kota yang dinilai masih menjadi kendala bagi para mama-mama untuk membawa hasil kebun dan dagangan mereka ke pasar.
Salah satu seorang pedagang mengaku terharu dengan kehadiran langsung wakil rakyat di tengah aktivitas pasar.

“Baru kali ini kami merasa benar-benar didatangi anggota DPR yang mau melihat langsung keadaan kami. Kami tidak salah memilih orang. Beliau datang, duduk bersama kami, mendengar keluhan kami, bahkan membeli dan memborong dagangan kami,” ungkap salah satu mama pedagang.
Bagi para pedagang, kehadiran Fachry Tura bukan sekadar agenda reses, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap kehidupan masyarakat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Menanggapi berbagai aspirasi yang disampaikan, Fachry Tura menegaskan bahwa seluruh masukan masyarakat akan dicatat dan diperjuangkan melalui mekanisme Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPR Papua Barat sesuai dengan kewenangan dan aturan yang berlaku.
Menurutnya, reses bukan hanya kewajiban formal anggota legislatif, tetapi momentum untuk memastikan suara masyarakat didengar secara langsung tanpa sekat.
“Saya seperti ini karena dipilih oleh rakyat, dan saya kembali untuk rakyat. Kehadiran saya di sini bukan hanya untuk mendengar, tetapi juga untuk memahami langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ujar Fachry.
Ia menambahkan bahwa perjuangan seorang wakil rakyat tidak berhenti pada saat mendengar aspirasi, tetapi harus dilanjutkan dengan upaya mengawal agar aspirasi tersebut masuk dalam agenda pembangunan pemerintah.

Menutup kegiatan reses, Fachry Tura kembali menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan kepentingan masyarakat Fakfak, khususnya para mama-mama pedagang yang menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.
“Saya tidak bisa berjanji, tetapi saya akan berusaha semaksimal mungkin memperjuangkan aspirasi masyarakat. Tugas saya adalah memastikan suara rakyat tidak berhenti di sini., melainkan sampai menjadi kebijakan dan pembangunan yang nyata,” tegasnya.
Reses di Pasar Tumburuni menjadi bukti bahwa mendengar suara rakyat tidak selalu harus dilakukan di balik meja. Terkadang, solusi lahir dari percakapan sederhana di tengah pasar, tempat masyarakat menyampaikan harapan mereka dengan jujur dan apa adanya.
“Pemimpin yang baik bukan yang paling sering berbicara di depan rakyat, melainkan yang paling banyak mendengar suara rakyat. Sebab dari keluhan masyarakatlah lahir kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.”
(Penulis: Risman Bauw).
